Sabtu, September 05, 2009

Kawah Gunung Galunggung Retak

Akibat Gempa, Khawatir Longsor
TASIK– Gempa tektonik berkekuatan 7,3 skala richter Selasa (2/9), berdampak pada pergerakan tanah di bibir kawah Gunung Galunggung. Akibatnya bibir kawah Galunggung retak. Pos Pengamatan Gunung Api Galunggung Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang berada di Kecamatan Padakembang, menemukan retakan tanah sepanjang 350 meter dan lebar 0,5 sentimeter melingkar di bibir kawah. Kondisi tersebut rentan memicu longsoran tanah, jika retakan terisi air hujan.

Anggota pengamat Gunung api Galunggung, Ucu Insan Kamil mengaku mengetahui kejadian tersebut dari laporan warga setempat. Namun, untuk memastikan potensi gerakan tanah di bibir kawah serta adanya potensi longsor, kata Ucu, harus dipastikan melalui penelitian lebih lanjut dari tim ahli peneliti pergerakan tanah Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Provinsi Jawa Barat. “Kemungkinan (penelitian) akan dilakukan satu atau dua hari kedepan,” ungkapnya kepada Radar, tadi malam.

Menurut Ucu, retakan tanah tersebut baru muncul setelah gempa. Pasalnya dari data terakhir pengamatan rutin oleh tim pengamatan Gunung Api Galunggung Minggu lalu, retakan tersebut tidak terlihat.
Apakah retakan itu bisa menyebabkan longsoran tanah ke objek wisata di bawahnya? Ucu mengatakan longsoran tanah akan jatuh ke kawah. Sebab, bibir kawah memiliki sudut kemiringan lebih curam daripada punggungnya. “Namun jika longsoran tanah jatuh ke danau dan menutup inlete (saluran pembuangan air, red), bisa menyebabkan gelombang air besar seperti peristiwa Situ Gintung. Gelombang tersebut mengalir ke Sungai Cikunir dan Cibanjaran,” ungkap Ucu.

Mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan, Pos pengamatan Gunung Api Galunggung menyarankan agar pemerintah menutup sementara akses pengunjung dan masyarakat ke kawah. Apalagi, sejak satu bulan terakhir, gempa vulkanik di Gunung Galunggung terus terjadi. Yakni satu kali berturut-turut pada Sabtu (1/8), Minggu (2/8), Senin (10/8) dan Selasa (11/8). Kemudian tiga kali pada Sabtu (15/8) dan berturut-turut satu kali pada Rabu (19/8), Sabtu (22/8), Senin (24 dan 31/8), dan satu kali pada Selasa (1/9). “Gunung Api Galunggung masih berstatus aktif normal,” pungkas Ucu.

Secara terpisah, aktivis lingkungan Dzulfakor, Usep menyatakan sempat berdialog dengan para kepala desa se-Kecamatan Padakembang membahas kodisi Gunung Galunggung saat ini. Menurut Usep, adanya retakan tanah di bibir kawah tak lepas dari aksi ekploitasi pasir di kawasan Cipanas Galunggung. Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya belum pernah bersuara tentang kondisi di Galunggung. “Seharusnya ada keputusan pelarangan ekploitasi di Galunggung seperti pasir,” ungkapnya.

Hal sama juga diungkapkan aktivis lingkungan Dzulfakor lainnnya, Abu. Menurutnya, jika retakan tanah terus membesar ketika hujan turun, bibir kawah bisa jebol. Luapan air kawah dan longsoran tanah dari bibir kawah setidaknya bisa menyapu dua desa terdekat, yakni Desa Linggajati dan Sinagar.
“Dalam waktu dekat kami berencana menggelar dialog dengan masyaralat Kecamatan Sukaratu tentang kondisi dan dampak kerusakan di Galunggung,” ungkap abu. (rip)

Bantuan Jangan Hanya Makanan

Banyak Daerah Bencana Belum Terpantau
TASIK—Bantuan untuk korban bencana gempa jangan hanya berupa makanan. Korban juga memerlukan tenda, pakaian, selimut dan obat-obatan. Misalnya korban gempa di Kecamatan Bojonggambir. Camat Bojonggambir Drs Agus Salim menyebutkan akibat gempa berkekuatan 7,3 skala richter pada Rabu (2/9), kerusakan rumah hampir merata di 10 desa. Kerusakan terparah terjadi Kampung Kertasari Desa Padangkamulyan.

Di lokasi itu diketahui puluhan rumah rusak berat dan ringan. Warga setempat secara gotong royong mulai membersihakan puing-puing rumah yang luluh lantah itu. Agus mengakui korban gempa sudah menerima bantuan tanggap darurat dari Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, yakni berupa 15 karung beras, alat dapur dan 10 tikar. Bantuan tersebut segera disalurkan ke lokasi bencana.

Namun menurut Agus, bantuan jangan hanya makanan atau mi instan. Korban, kata dia, juga memerlukan bantuan lainnya seperti tenda, selimut, pakaian dan obat-obatan. “Bantuan tenda masih diperlukan, masih banyak warga yang tidur di teras rumah, karena takut adanya gempa susulan,” ungkapnya.
Hal sama diungkapkan Camat Cisayong Husna Rosyid. Menurutnya, bantuan tanggap darurat dari Pemkab Tasikmalaya sudah sampai di lokasi korban bencana. Namun, bantuan yang ada dianggap terlalu monoton, yakni didominasi beras dan mi instan. Padahal, kata Husna, warga juga memerlukan bantuan lainnya, seperti obat-obatan, peralatan mandi, dan pakaian. “Selain itu juga memerlukan bantuan tenda. Saat ini baru ada dua tenda di Desa Sukasetia. Padahal ada 12 desa lain yang juga butuh tenda,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Desa Mekarwangi Oneng mengatakan di daerahnya terdapat 67 rumah rusak berat dan hancur sehingga tidak layak huni. Sedangkan warga yang tidur di luar rumah sebanyak 143 kepala keluarga (KK). Sementara tenda untuk pengungsi minim. Selain itu bantuan makanan, pakaian, selimut dan obat-obatan juga hingga kini belum diterima. “Mungkin karena daerah kami berada di lintasan jalan provinsi sehingga tak terpantau,” keluh Oneng.

Camat Cibalong Safari Agustin juga menyatakan bahwa masyarakatnya membutuhkan bantuan tenda. Pasca-gempa, warga hanya bisa tidur di teras rumah, karena masih khawatir adanya gempa susulan. Safari menyebutkan, jumlah rumah yang rusak berat di Cibalong mencapai 299 unit, rusak sedang 563 unit dan rusak ringan 1.087.

Demikian juga pengungsi di Sukanegara Kepunduhan Sukamulya Desa Mandalasari Kecamatan Puspahiyang belum mendapat perhatian. Sekitar 65 kepala keluarga masih tinggal di tenda darurat. Pasalnya, sebagian besar rumah mereka rusak berat akibat gempa.

Menurut KH Hasan Safari, tokoh masyarakat sekaligus pembina umat di Masjid Jami Al-Ihsan, Sukanegara, pengungsi mulai sakit-sakitan. “Baru dua hari mereka tinggal di tenda darurat sejak gempa. Saat ini kondisi mereka (pengungsi, red) mulai sakit-sakitan,” ungkapnya pada Radar melalui sambungan telepon tadi malam.
Lanjut Hasan, warga belum berani kembali ke rumah mereka. “Karena setelah gempa, warga masih khawatir. Pasalnya kondisi tanah labil. Banyak retakan tanah yang sewaktu-waktu bisa jebol. Kami khawatir jika musim hujan tiba, tanah longsor,” jelasnya.

Diakui Hasan, yang paling dibutuhkan pengungsi saat ini adalah obat-obatan, makanan dan pakaian hangat. “Karena ada beberapa yang sakit. Memang dari desa dan kecamatan sudah memantau. Tapi kondisi pengungsi tidak bisa menunggu prosedur bantuan. Kami sangat membutuhkan bantuan secepatnya. Saya khawatir akan kondisi pengungsi,” tandasnya.

Sedangkan di Kecamatan Cibalong ratusan korban gempa Desa Wakaf Kecamatan mulai menderita kedinginan. Sebab, guyuran hujan yang mendera wilayah ini membuat tenda-tenda pengungsian mereka basah kuyup. Sementara, hembusan angin malam yang dingin membuat para pengungsi mulai kedinginan akut. Para pengungsi ini tersebar di beberapa titik pengungsian. Antara lain di sekitar Kampung Kubang Jaya dan Puspa. Desa Wakaf tercatat sebagai salah satu desa terparah di wilayah Tasikmalaya Selatan, akibat gempa Rabu (2/9). Yakni terdapat 142 KK atau sekitar 500 jiwa kini tinggal di kamp-kamp pengungsian akibat rumah mereka hancur. Herannya, para korban sekolah luput dari perhatian pemerintah.

“Kami memang kurang diperhatikan. Mungkin pemerintah menganggap daerah kami tak ada yang parah. Padahal kalau pemerintah menengok daerah ini, kondisinya tak jauh berbeda dari pusat-pusat gempa di lokasi lain,” keluh Haris Somantri SSos, kades Wakaf di lokasi pengungsian, kemarin.

Dia menjelaskan, sekitar 142 bangunan hancur total dan sekitar 312 rusak ringan. Termasuk di antaranya 34 sarana umum seperti masjid dan gedung sekolah. Dia juga menyebut, balai desanya juga hancur total, sehingga para staf desa kini tak bisa lagi mengantor. Jika diangkakan, desa ini menelan kerugian sekitar Rp4,3 miliar. Musibah ini tercatat paling parah di Kecamatan Bantarkalong. “Kita masih butuh banyak tenda, sekitar 10 buah lagi. Soalnya yang ada sekarang hanya sekitar 7 tenda belum cukup menampung pengungsi,” katanya.

Sementara itu, Yoga (47) salah seorang pengungsi mengaku kehilangan harta bendanya hingga senilai Rp150 juta lebih. Termasuk bengkel dan dua rumahnya rusak total dan tak mungkin lagi diperbaiki. “Sekarang semuanya musnah, tak ada yang tersisa lagi. Paling yang kami punya peralatan rumah tangga, tetapi peralatan elektronik rusak,”katanya.

Dia juga berharap agar pemerintah segera memberikan bantuan kepada para pengungsi. Yang paling mendesak katanya adalah kebutuhan sembako, selimut, dan bahan-bahan material. Dia juga kahwatir, musim hujan bisa menyebabkan serangan penyakit.

Demikian juga di Kota Tasikmalaya. Bahkan ada satu daerah bencana yang belum terpantau dan diberi bantuan, yakni Kecamatan Tamansari. Anggota DPRD Kota H Tatang Multiara menyebutkan di Tamansari akibat gempa, 2.124 rumah rusak berat. Sebanyak 28 unit di antaranya roboh. Hingga kini para korban belum mendapatkan bgantuan darurat.

Sementara di Kabupaten Ciamis, sejumlah korban bencana hingga hari ketiga pasca-gempa masih belum mendapatkan bantuan. Baik dari Pemerintah Kabupaten Ciamis maupun dari sumber-sumber lain. Padahal, tingkat kerusakan yang terjadi di wilayah Kabupaten Ciamis tidak kalah parahnya dengan daerah-daerah lain. Hanya saja, jarak yang membentang di wilayah Tatar Galuh, membuat proses pendataan dan evakuasi tidak mudah dilaksanakan.

Di Kabupaten Ciamis, sedikitnya terdapat 6.400 bangunan yang mengalami rusak parah. Serta lebih dari 8.300 bangunan, termasuk sarana dan prasarana umum mengalami rusak sedang dan ringan.
Hingga kemarin, sejumlah warga yang rumahnya mengalami kerusakan masih tetap tinggal di tenda-tenda darurat yang mereka buat di lokasi tanah lapang. Mereka saling berdesakan di satu tenda.
Berdasarkan pantauan di wilayah Kecamatan Ciharubeuti, setiap hari menjelang malam warga berdatangan ke tenda yang telah mereka buat. Mereka bertahan di sana karena khawatir terjadinya gempa susulan, selain karena kondisi rumah mereka yang hancur. Mereka bertahan hingga menjelang subuh.
Di tenda-tenda darurat itu, warga sama sekali tidak dilengkapi dengan peralatan tidur yang memadai. Termasuk minimnya air bersih dan dapur umum.

Seperti diungkapkan Toto (43) warga Desa Sukahaji Kecamatan Cihaurbeuti. Toto bersama puluhan warga Kampung Kendal tinggal di tenda komando yang didirikan oleh Kodim 0613 Ciamis di tanah pesawahan yang kekeringan. “Rumah saya hancur dan tak memungkinkan bisa dihuni kembali. Untungnya, saat kejadian seluruh anggota keluarga saya bisa selamat. Selain rumah saya, rumah tetangga saya pun mengalami hal serupa,” tandasnya.

Nasib serupa dialami korban gempa di Desa Darmacaang Kecamatan Cikoneng Kabupetan Ciamis. Warga mengaku belum mendapat bantuan hingga hari ke-3 pasca-gempa. Di desa ini sebanyak 334 rumah hancur. Di antaranya Dusun Sorok sebanyak 178 rusak berat yang diperkirakan tidak bisa diperbaiki lagi. Demikian juga di Dusun Desa dan Cimong, 166 rumah rusak berat. Kepala Desa Darmacaang Ajo Warjo, mengaku belum ada bantuan dari Pemkab Ciamis. “Jangankan ada bantuan, orang yang nengok pun belum ada,” katanya.
Di Dusun Sompok Desa Sumberjaya Kecamatan Cihaurbeuti, sedikitnya 60 rumah rusak. Penghuninya terpaksa harus mengungsi ke rumah tetangganya yang masih utuh. Ada juga yang terpaksa menumpang di masjid dan membuat tenda di lapangan sepakbola. “Saya prihatin melihat kondisi korban di Sompok, karena daerahnya terisolir. Saya mohon pejabat atau yang berwenang bisa meninjaunya,” kata Mamat, salah seorang pemuda Sompok. (rip/dir/ale/uym/tin/sup/dar)

Isu Gempa Susulan Bikin Panik Warga

Karyawan PT Hini Daiki Diliburkan
TASIK- Isu akan datangnya gempa susulan dengan kekuatan lebih besar dari gempa yang terjadi pada Rabu sore (2/9), membuat warga panik, kemarin. Isu yang muncul lewat pesan singkat (SMS) dan internet.
Isi SMS itu yakni: “Prediksi BMG: ada gempa susulan hari ini (kemarin, red) jam 14.00, 8 skala richter. Hanya untuk waspada bukan untuk menakut-nakuti.”


Sontak, isu tersebut membuat warga panik. Apalagi, didukung oleh pemberitaan sebuah stasiun televisi swasta bahwa warga Jawa Barat diminta waspada terhadap gempa susulan. Saking paniknya, banyak warga yang hendak bepergian, terpaksa diurungkan. Warga pun saling menghubungi untuk memberitahukan masalah kemungkinan munculnya gempa susulan. “Saya langsung hubungi keluarga saya, supaya hati-hati. Karena ketika saya berada di luar rumah ada ribut-ribut akan datang gempa susulan sekitar jam 14.00. Ya, saya khawatir dan panik,” ungkap Rika salah seorang kryawan swasta yang bertemu Radar, kemarin.

Kepanikan serupa terjadi di daerah lain. Bahkan di Cisayong, sekitar 400 karyawan PT Hini Daiki pada pukul 11.45 kemarin terpaksa dibubarkan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan benar-benar terjadi. Menurut satpam yang enggan namanya dikorankan, Direktur PT Hini Daiki, Hirokazu Kanagawa Shan menerima informasi bahwa akan terjadi gempa susulan sekitar pukul 13.00 sampai 14.00. Maka dari itu pihaknya mengintruksikan agar seluruh karyawan dipulangkan. “Pagi tadi Bapak Direktur (Hirokazu Kanagawa Shan) menerima informasi akan terjadi gempa lagi, dan para karyawan diberitahukan selepas dzuhur, karena takut terjadi kepanikan. Maka hari ini (kemarin, red) seluruh karyawan bekerja setengah hari. Walaupun besok ada target untuk mengekspor barang, Bapak takut ada karyawan yang jadi korban,” paparnya.


Isu gempa susulan juga beredar di wilayah Garut. Warga yang berada di sepanjang pantai selatan resah dengan adanya kabar itu. Akibatnya, sebagian warga hendak kembali ke rumahnya, kembali ke tempat pengungsian.
Salah seorang warga Jalan Satria Desa Paas Kecamatan Pamengpeuk, Alan (23) menjelaskan akibat adanya isu gempa susulan, warga siap-siap kembali ke pengungsian dan mencari dataran yang lebih tinggi. “Karena warga mendengar gempa susulan besarnya mencapai 8 skala richter, lebih besar dari sebelumnya,” katanya kemarin sore.
Namun hingga kemarin sore, gempa susulan tersebut tidak terjadi. Namun demikian, ada sebagian warga masih tetap bertahan di luar rumah.

BUPATI BERANG
Secara terpisah, Bupati Tasikmalaya Drs H Tatang Farhanul Hakim MPd berang dengan adanya isu gempa susulan tersebut. Bupati menandaskan isu itu tidak benar. “Hingga saat ini saya tidak menerima fatwa dari ahli geologi akan terjadi gempa susulan. Karena itu saya tegaskan ke semua pihak bahwa yang mengisukan gempa susulan adalah teroris,” kata Tatang melalui pesan singkat (SMS) kepada Radar tadi malam.

Kapolresta Tasikmalaya AKBP Aries Syarif Hidayat MM melalui Kabag Ops Kompol Yono Kusyono mengimbau warga tenang. Menurut Yono, warga jangan percaya isu gempa susulan jika informasi itu bukan dari pejabat berwenang. “Kalau tidak keluar dari mulut petugas yang berwenang, maka jangan dipercaya. Tapi kalau memang masih percaya, maka masyarakat bisa menghubungi ke polisi terdekat. Insya Allah kami akan memberikan jawaban dan informasi yang tepat,” ucap Yono.

Menurut Yono, bisa saja isu itu sengaja dihembuskan agar warga panik dan lupa akan harta bendanya. Lalu dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab untuk menjarah harta warga.
Hal sama diungkapkan Kadishub Garut H Hilman Farid MSi. Hilman meminta warga Garut dan sekitarnya tetap tenang. Karena menurut informasi yang diterimanya dari BMG, kemungkinan terjadinya gempa susulan sangat itu kecil. “Tadi sore saya rapat di setda (Pemkab Garut, red) antara pemerintah dengan BMG. Camat juga hadir. Kemungkinan terjadinya gempa atau tsunami sangat kecil,” paparnya. (tin/sla/dir/dem/ari)

Jalan Pamijahan Terbelah

Satu Kampung Terancam Longsor
BANTARKALONG - Gempa telah menyebabkan beberapa lokasi di Desa Wakaf Kecamatan Bantarkalong mengalami kerusakan. Terutama, satu kampung terancam tertimbun longsoran tanah seandainya tidak diantisipasi. Ini menyusul retaknya Jalan Raya Parungponteng-Pamijahan.

Keretakan tanah ini seolah membelah jalan raya hingga setengah badan jalan, tepatnya di Kampung Puspa. Di badan jalan terlihat guratan tanah yang terbelah sepanjang 10 meter dengan kedalaman mencapai 6 meter.
Kepala Desa Wakaf Haris Somantri SSos mengungkapkan, terbelahnya jalur tersebut bisa membahayakan para pengguna jalan. Tak terkecuali bagi warga yang tinggal di perkampungan Puspa. “Kebetulan tak jauh dari retakan tanah di sekitar kampung itu terdapat areal perkampungan penduduk. Bisa-bisa perumahan warga terkubur tanah. Apalagi sekarang ini musim hujan. Jadi kalau tidak cepat ditangani, bisa parah. Sebaiknya langsung dibenteng saja,” katanya.

Sementara tak jauh dari lokasi tersebut, puluhan anggota Brimob Polda Jabar terlihat bergotong-royong menurunkan genting rumah-rumah penduduk yang mengalami kerusakan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi ambruknya bangunan yang bisa menimpa para penghuninya maupun kepada warga sekitar yang tengah berlindung di sekitarnya. “Rumah-rumah ini sudah tak mungkin dihuni lagi. Soalnya sudah parah. Juga tak mungkin direnovasi. Jadi lebih baik dihancurkan untuk menghindari bahaya reruntuhan. Ini sesuai permintaan kades dan warga,” terang AKP Wawan komandan regu Brimob Polda Jabar. (uym)

Kesulitan Air Bersih Meluas

Korban Gempa Terpaksa Beli Air
CIGALONTANG – Kesulitan air bersih tak hanya dirasakan oleh warga korban gempa di Kecamatan Cigalontang. Sejumlah warga pengungsi korban bencana tanah longsor yang juga menjadi korban gempa 7,3 SR di Kampung Cikareo Desa Batusumur Kecamatan Manonjaya juga mengharapkan bantuan air bersih.
Kepala Desa Batusumur, Endang Ruhimat memastikan bahwa di lokasi relokasi bencana tanah longsor Cikareo terdapat dua rumah yang rusak akibat gempa. Sedangkan total rumah yang rusak di Desa Batusumur, mencapai 99 rumah rusak ringan dan 14 rusak berat. “Bantuan tanggap darurat belum sampai ke desa. Khusus warga relokasi Cikareo, sangat membutuhkan bantuan air bersih,” ungkap Kepala Desa Batusumur Endang Ruhimat.


Salah seorang warga lokasi relokasi, Yani (30) menyatakan bahwa jumlah kebutuhan air bersih keluarganya mencapai 15 ember per hari. Selama ini, Yani dan keluarga mengandalkan sumur warga terdekat sejauh 500 meter. Namun, akibat kemarau panjang tahun ini, debit air sumur sudah mulai berkurang. Menurut dia, warga relokasi harus rela mengambil air dari mata air Cikareo sejauh 2 kilometer.

Sementara itu, Rustandi (40) salah seorang warga Kampung Cigalontang Desa Jayapura Kecamatan Cigalontang, menyatakan bahwa kesulitan air sudah dirasakan warga sejak dua bulan lalu. Warga harus rela megantre di sebuah mata air yang berada sejauh 1500 meter. Namun, setelah bencana gempa Selasa (2/9) warga Cigalontang mendapat bantuan air bersih dari PDAM Tirta Sukapura Tasikmalaya. “Dulu harus beli air bersih Rp1.000 per jeliken ukuran 20 liter. Airnya kecil, harus ngantri,” ungkap Rustandi.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama PDAM Tirta Sukapura Tasikmalaya, H Atang Kardian menyatakan bahwa sebanyak 3 mobil tangki, masing-masing berkapasitas 3.000 liter, dikirim bergiliran setiap hari khusus untuk warga Cigalontang. Di lokasi pengungsian sementara, air bersih ditampung di hidran umum (bak penapungan sementara, red) dengan ukuran 3 meter kubik. “Hidran umum ada 2 unit, sementara baru dikirim ke Cigalontang,” ungkapnya.

Lanjut Atang Kardian, pihaknya sudah mengirim petugas ke lokasi bencana di Cisayong untuk memastikan jumlah kebutuhan air bersih. Jumat (4/9) bantuan air bersih dipastikan sudah diterima warga korban gempa di Desa Sukasetia Kecamatan Cisayong. Atang memastikan bahwa pihaknya siap berupaya maksimal menyalurkan bantuan air bersih kepada warga korban gempa. Kendati saat ini, terjadi penurunan debit air hingga 30 persen akibat musim kemarau. “Kita sudah koordinasi dengan pihak PDAM provinsi dan pusat, malah ditantang butuh berapa?. Kita juga sudah ajukan 20 unit hidran umum,” terang Atang Kardian. (rip)




PKK Provinsi Bantu Korban Gempa

CIAMIS - Istri Gubernur Jawa Barat Hj Netty Prasetyani Heryawan bersama pengurus PKK se-Jawa Barat meninjau korban gempa di Kompleks Lembur Situ, kemarin. Netty memberikan sejumlah bantuan seperti selimut, mukena, pakaian luar, pakaian dalam, pembalut wanita dan beberapa buku cerita.

Menurut Neti Heriawan, bantuan ini diperuntukan bagi keluarga yang menjadi korban bencana. Diharapkan bantuan ini bisa meringankan korban. Selain itu, bantuan ini juga ada buku-buku cerita. “Mudah- mudahan buku ini berguna dan bisa dibaca oleh masyarakat yang terkena bencana terutama bagi anak-anak, karena peristiwa ini pasti akan menyisakan trauma yang mendalam bagi sebagian masyarakat terutama yang terjadi pada anak-anak,” terangnya.

Kata Neti, menangani trauma pascabencana sangat penting sekali, oleh sebab itu pihaknya meminta tim penggerak PKK Kabupaten Ciamis harus terlibat aktif dalam pos-pos bencana yang ada, meskipun tidak membuat pos bencana sendiri. Di samping PKK, timnya juga meminta ke petugas-petugas kesehatan agar senantiasa memantau terus keadaan-keadaan korban bencana terutama yang berada di pos-pos pengungsian karena yang berada di pos pengungsian tingkat kesehatannya sangat labil sekali. “Dan saya juga mengimbau kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan agar secepatnya melapor ke kecamatan untuk dilaporkan ke kabupaten, dan diteruskan ke tingkat propinsi,” ungkapnya.


Ketua tim Penggerak PKK Jawa Barat ini menjelaskan, pemerintah Jawa Barat telah membentuk Satkorlak tingkat Jawa Barat yang dalam waktu dua pekan ini terhitung dari mulai 2 September sampai 16 September 2009, wajib mengadakan pertolongan kepada semua masyarakat yang membutuhkan pertolongan, selama 2 minggu seluruh kebutuhan korban bencana akan dipenuhi. “Untuk keperluan korban bencana, pemerintah provinsi telah menyediakan tenda-tenda pengungsian, logistik dan juga air minum dan toilet berjalan, begitu juga selimut,” ujarnya.

Di samping bantuan tersebut di atas pihaknya juga akan mengantisipasi dampak trauma pasca bencana, di antaranya dalam waktu dekat ini pihaknya akan mengirimkan dokter jiwa ke tiap-tiap pos pengungsian, karena dikhawatirkan dampak dari bencana ini menyisakan trauma yang mendalam pada sebagian korban bencana, untuk keperluan pihaknya akan menempatkan 1 orang dokter di tiap-tiap posko pengungsian untuk mengecek setiap pengungsi. “Kami tidak menginginkan setelah evakuasi bencana ini selesai menyisakan banyaknya masyarakat yang mengalami depresi,” ujarnya.


Selain itu pihaknya juga akan memberikan perlengkapan keperluan medis seperti obat-obatan yang diperlukan korban. Katanya, obat ini sangat penting sekali bagi pengungsi karena kondisi di luar sangat rentan sekali dengan terserangnya wabah penyakit. “Pemerintah provinsi telah menyediakan jenis bantuan untuk pemenuhan bantuan 12 kabupaten yang terkena se-Jawa Barat. Oleh karena itu kami memohon kapada pengurus bencana setempat agar tidak segan-segan untuk memohon jika masih kekurangan bantuan mengingat ada daerah yang terkena bencana sangat banyak dan berada bukan pada 1 tau dua titik saja melainkan banyak titik,” jelasnya.(der)

Pemda Siapkan 1.000 Nasi Bungkus

CIAMIS - Untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat yang berada di areal pengungsian Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis memberikan 1.000 nasi bungkus per hari selama 4 hari. Bantuan tersebut diberikan sejak terjadinya gempa. Tujuannya, untuk menjaga kekurangan suplaian makanan yang dialami pengungsi korban gempa. Demikian dikatakan oleh Bupati Ciamis H Engkon Komara, kemarin. Dia menerangkan, pemberian nasi bungkus ini bertujuan untuk membantu korban karena selama berada di pengungsian mereka tidak bisa melakukan pekerjaan sebagai mana mestinya. “Dengan pertimbangan tersebut Pemkab Ciamis, memberikan solusi ini,” ujarnya.

Dikatakan Engkon, untuk mengatasi kekurangan persediaan beras Pemerintah Kabupaten Ciamis, mengambil jatah persediaan alokasi bencana di Bulog sebanyak 20 ton dari total ketersediaan beras sebanyak 100 ton.
“Beras ini semuanya akan disalurkan kepada semua korban gempa yang ada di Kabupaten Ciamis dan akan diberikan per kepala keluarga sebanyak 10 kg ditambah uang tunai senilai Rp 50.000 per hari, dan bantuan ini diberikan selama 7 hari,” jelasnya.

Engkon juga meminta uluran tangan dari pihak swasta, sebab yang menjadi kendala saat ini adalah kesulitan memberikan pertolongan dapur umum di lokasi-lokasi yang jauh. “Oleh karena itu untuk mengoptimalkan bantuan, pemerintah menempatkan beberapa tangki-tangki PDAM di titik-titik tertentu,” terangnya.
Di samping itu pihaknya telah menginstruksikan kepada seluruh camat agar standby di kantornya masing-masing. “Jangan sampai meninggalkan kantor sebelum kondisi kondusif kembali. Ini bertujuan agar laporan kekurangan dan apa pun menjadi cepat,” tandasnya. (der)

Korban Gempa Karangpawitan Dianaktirikan

Pemkab Belum Turun Tangan
KARANGPAWITAN - Ratusan korban gempa memprotes kebijakan Pemkab Garut dalam penanganan para korban pasca-gempa. Perhatian Pemkab Garut dianggap hanya terfokus di wilayah Garut Selatan. Seperti Pameungpeuk, Cikelet dan Cibalong.

Di Desa Lebak Agung Kecamatan Karangpawitan, ratusan kepala keluarga (KK) korban gempa, hanya menempati satu tenda bantuan dari Yonif 303 Cibuluh. Rumah mereka hancur dan kini masih bertahan di tenda penampungan sementara yang dibuat di lapangan kecamatan. Atau tenda tersebut berada sekitar 5 km dari pusat pemerintahan Pemkab Garut.

Kepala Desa Lebak Agung Aep Saepudin menyesalkan sikap Pemkab Garut. Sebab hingga hari ketiga pasca-kejaian, ratusan warganya tinggal di lokas penampungan dan sama sekali belum ada perhatian Pemkab Garut. “Jangankan sifatnya pemberian bantuan, kunjungan pun sama sekali tidak ada,” keluhnya.

Dikatakannya, di Desa Lebak Agung terdapat 241 rumah yang rusak akibat gempa. Dari jumlah tersebut, sebagian besar kondisinya rusak berat sehingga tak bisa ditempati. Aep berharap, pemerintah juga memperhatikan nasib para pengungsi yang merupakan korban gempa di daerahnya. Karena menurutnya, warga Desa Lebak Agung merupakan warga Kabupaten Garut yang berhak mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah. “Kami benar-benar merasa dianaktirikan oleh Pemkab Garut. Kejadian seperti ini bukan yang pertama kali dialami,” paparnya.

Namun Aep merasa beruntung karena HIPMI Pusat, Jabar dan Garut mengunjungi lokasi sekaligus memberikan bantuan. Di tempat yang sama, Camat Karangpawitan Drs Dadeng Thamrin membenarkan jika hingga kini ke daerahnya belum ada kunjungan dari pihak pemkab. Padahal, sebut camat, musibah gempa yang terjadi Rabu (2/9) lalu juga mengakibatkan kerusakan cukup parah di daerah tersebut.

Diterangkan Dadeng, selain Desa Lebak Agung, sejumlah rumah di desa lainnya di Karangpawitan mengalami kerusakan parah akibat diguncang gempa. Dari catatanya rumah rusak mencapai 965 unit, dengan rincian 374 kategori rusak berat, 43 rusak sedang, dan 548 lainnya rusak ringan.
“Karangpawitan merupakan salah satu kecamatan yang mengalami kerusakan cukup parah. Total yang rusak mencapai 965 rumah,” tandasnya. (one)

24 Bangunan SD Hancur

3.832 Siswa Diliburkan

PEUNDEUY – Sebanyak 3.832 siswa sekolah dasar (SD) di UPTD Pendidikan Kecamatan Peundeuy terpakasa diliburkan. Hal tersebut dilakukan mengingat beberapa bangunan di 24 SD di kawasan tersebut rusak berat dan rusak ringan akibat goncangan gempa.

Dikemukakan Kepala UPTD Pendidikan Dadang Hidayat SPd, akibat gempa Rabu (2/9) lalu, 24 SD yang tersebar di 6 desa, yaitu Desa Saribakti, Peundeuy, Toblong, Sukanagara, Pangrumasan dan Desa Purwajaya mengalami kerusakan ringan maupun berat. “Kami terpaksa meliburkan siswa, karena sebagian besar bangunan sekolahnya mengalami kerusakan. Khawatir bahaya dari jatuhan material bangunan,” katanya.
Ditambahkannya, kerusakan yang dialami SD tersebut tidak hanya retak-retak. Namun banyak di antaranya ambruk bahkan rata dengan tanah.


“Dari 24 SD tersebut, hanya ada 19 yang mengalami rusak berat. Sehingga sama sekali tidak bisa digunakan kegiatan belajar mengajar. Namun 5 SD lainnya mengalami rusak ringan. Demi keselamatan, terpaksa sebanyak 3.832 siswa diliburkan,” ujar Dadang.
Dari 19 SD yang mengalami kerusakan berat depalan lainnya paling parah (lihat tabel). “Selain bangunan SD, di Peundeuy juga terdapat bangunan SMP yang rusak, yaitu SMP Satu Atap. Kerusakan yang dialami SMP ini cukup parah juga,” katanya.

Diterangkan, guncangan gempa di Kecamatan Peundeuy juga telah menyebabkan rusaknya kantor UPTD Disdik setempat, yang selama ini numpang di kantor PGRI. “Kami telah melaporkan hal tersebut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten. Dan Kepala Dinas Pendidikan, telah menginstruksikan agar data-data kerusakan bisa secepatnya dilaporkan. Kini kami kesulitan mendapatkan data lengkap akibat letak geografis Peundeuy yang 90 persen berada di daerah pelosok yang hanya bisa dijangkau dengan ojek,” tuturnya. Sedangkan berdasarkan data yang masuk ke Subag Jaringan Data dan Informasi Bagian Informatika Setda Garut, jumlah sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa totalnya mencapai 331 sekolah. (one)

24 Bangunan SD Hancur

3.832 Siswa Diliburkan

PEUNDEUY – Sebanyak 3.832 siswa sekolah dasar (SD) di UPTD Pendidikan Kecamatan Peundeuy terpakasa diliburkan. Hal tersebut dilakukan mengingat beberapa bangunan di 24 SD di kawasan tersebut rusak berat dan rusak ringan akibat goncangan gempa.

Dikemukakan Kepala UPTD Pendidikan Dadang Hidayat SPd, akibat gempa Rabu (2/9) lalu, 24 SD yang tersebar di 6 desa, yaitu Desa Saribakti, Peundeuy, Toblong, Sukanagara, Pangrumasan dan Desa Purwajaya mengalami kerusakan ringan maupun berat. “Kami terpaksa meliburkan siswa, karena sebagian besar bangunan sekolahnya mengalami kerusakan. Khawatir bahaya dari jatuhan material bangunan,” katanya.
Ditambahkannya, kerusakan yang dialami SD tersebut tidak hanya retak-retak. Namun banyak di antaranya ambruk bahkan rata dengan tanah.


“Dari 24 SD tersebut, hanya ada 19 yang mengalami rusak berat. Sehingga sama sekali tidak bisa digunakan kegiatan belajar mengajar. Namun 5 SD lainnya mengalami rusak ringan. Demi keselamatan, terpaksa sebanyak 3.832 siswa diliburkan,” ujar Dadang.
Dari 19 SD yang mengalami kerusakan berat depalan lainnya paling parah (lihat tabel). “Selain bangunan SD, di Peundeuy juga terdapat bangunan SMP yang rusak, yaitu SMP Satu Atap. Kerusakan yang dialami SMP ini cukup parah juga,” katanya.

Diterangkan, guncangan gempa di Kecamatan Peundeuy juga telah menyebabkan rusaknya kantor UPTD Disdik setempat, yang selama ini numpang di kantor PGRI. “Kami telah melaporkan hal tersebut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten. Dan Kepala Dinas Pendidikan, telah menginstruksikan agar data-data kerusakan bisa secepatnya dilaporkan. Kini kami kesulitan mendapatkan data lengkap akibat letak geografis Peundeuy yang 90 persen berada di daerah pelosok yang hanya bisa dijangkau dengan ojek,” tuturnya. Sedangkan berdasarkan data yang masuk ke Subag Jaringan Data dan Informasi Bagian Informatika Setda Garut, jumlah sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa totalnya mencapai 331 sekolah. (one)

Fasilitas LAPAN Sebagian Rusak

Bupati Tolak Tawaran Mes Pengungsi

CIKELET – Selain memporak-porandakan perkampungan warga di Kecamatan Cikelet, gempa juga merusak salah satu objek vital nasional yang ada di kecamatan tersebut. Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), salah satu objek strategis nasional yang berada dekat Kampung Kiarakohok dan Kompleks Nelayan di Desa Pamalayan Kecamatan Cikelet, juga mengalami kerusakan.

Menurut Moedji Soedjarwo, kepala LAPAN, gempa merusak sebagian infrastruktur LAPAN. Namun, menurutnya, fungsi strategis LAPAN masih bisa berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan infrastruktur teknis, seperti peralatan monitoring peluncuran roket tidak mengalami kerusakan berarti. “Infrastruktur yang ada tidak mengalami kerusakan yang berarti. Beberapa gedung hanya mengalami kerusakan ringan. Ini juga terjadi pada infrastruktur teknis yang mendukung fungsi strategis lapan seperti peralatan monitoring,” jelasnya.

Moedji mengungkapkan, fasilitas LAPAN yang paling parah adalah fasilitas rumah dinas karyawan LAPAN yang jumlahnya 17 unit. Semua rumah dinas mengalami kerusakan berat. Beberapa di antaranya bahkan sudah tidak bisa lagi digunakan termasuk rumah dinas dirinya. Moedji mengaku, pihak pusat telah meminta laporan kerusakan infrastruktur yang ada. “Kita sudah kirim via e-mali berupa foto fasilitas LAPAN yang rusak. Sementara laporan tertulis masih dalam proses penyusunan karena perlu perhitungan rinci,” ujarnya.

Menurut Moedji, banyak dari karyawannya menjadi pengungsi. Karena tempat tinggal mereka rusak berat dan tidak bisa ditinggali lagi. Pihaknya berinisiatif memberikan bantuan seadanya kepada pegawai berupa makanan dan kebutuhan sehari-hari. “Bukan hanya untuk karyawan LAPAN, kita juga telah memberikan bantuan kepada warga sekitar berupa makanan. Namun sifatnya hanya sementara,” jelasnya.

Lanjut dia, pihaknya telah menawarkan kepada koordinator pengungsi untuk menggunakan mes yang ada di lingkungan LAPAN. Di mes ada 100 tempat tidur lengkap dengan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Fasilitas itu menurutnya bisa digunakan para pengungsi daripada tidur di tenda pengungsian dalam kondisi cuaca saat ini. “Sayangnya belum bisa direalisasikan warga. Para pengungsi takut jika berada di mes LAPAN tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Selain itu mereka juga ingin berada dekat rumah mereka agar lebih mudah mengontrol harta mereka,” tuturnya.

Pihaknya juga menawarkan fasilitas mes kepada Bupati Garut Aceng HM Fikri. Sayangnya, kata dia, bupati menolak dengan alasan bawah pengungsi tidak boleh terlalu lama tinggal di pengungsian.
“Sebenarnya saya hanya prihatin melihat para pengungsi di tenda-tenda. Jika malam angin bertiup kencang dan jelas tidak baik buat kesehatan mereka,” katanya. (ari)

Rumah Ambruk, Tinggal di Kandang Domba

Menengok Korban Gempa di Langensari

Gempa berkekuatan 7,3 richter yang mengguncang Jabar Selatan ternyata menimbulkan penderitaan sejumlah warga. Termasuk yang dialami Jariyah warga RT5/6 Desa Langensari, Kecamatan Langensari. Ibu dengan enam anak ini terpaksa harus tinggal di kandang domba karena rumahnya hancur.

Daud Abdullah
LANGENSARI

JUMAT (4/9), Jariyah tampak kelelahan. Raut mukanya muram, sesekali dia berusaha menghentikan tangis anaknya yang terus menangis. Rupanya anak yang baru berusia 2 tahun itu merasakan penderitaan orangtuanya. Menderita karena rumahnya hancur akibat gempa. “Rumah saya habis, barang-barang terkubur. Saya tak punya apa-apa lagi. Saya terpaksa tinggal di kandang domba,” katanya dengan nada sedih. Suaranya memelas seakan minta perlindungan. Sembari mengusap anaknya dia pun duduk di kandang domba.

Suami Jariyah, Kasim (50) berusaha menenangkannya. “Sing sabar we, da lain urang wungkul nu kieu teh (sabar saja bukan kita saja yang terkena bencana),” katanya. Saat gempa, Kasim sedang berada di luar rumah. Dua anaknya sedang berada di dalam rumah. Pas kejadian gempa. Kasim angsung mengambil dua anaknya yang sedang tertidur pulas di dalam rumah. “Waktu itu saya panik sekali, tapi untung selamat,” terangnya.
Jariyah dan Kasim mengaku tak sempat membawa pakaian dan harta benda keluar rumah.
"Wah ndak sempat toh keburu roboh mas rumahnya, jadi saya pasrah saja harta benda saya tertimbun reruntuhan rumah,” ujarnya sesekali menyeka air mata.

Karena sudah tak punya apa-apa lagi, keluarga Kasim tinggal di kandang domba tak jauh dari rumahnya. Dia kedinginan saat malam, dan kepanasan saat siang. Tetangganya tak mau peduli dengannya termasuk orang yang kaya di kawasan itu. "Kami tak punya saudara, saya nggak mau minta belas kasihan orang terpaksa tinggal di sini saja,” katanya.

Hidup menderita, bagi Jariyah sudah biasa. Makan seadanya tidur pun beralas tikar, tak masalah. Namun dia sangat teriris ketika anak menangis kedinginan.
'Kasihan anak-anak kalau malam nangis terus karena banyak nyamuk. Saya hanya bisa berdoa semoga rumah saya bisa ditemnpati lagi,” katanya. (*)

Korban Gempa di Banjar Kedinginan

Dua Hari Pasca-gempa
BANJAR-Korban gempa di Kota Banjar masih memerlukan bantuan. Terutama bantuan untuk memperbaiki rumah yang rusak. Sebab ada sebagian korban yang rumahnya dipasang atap terpal. Jika malam, mereka kedinginan.

Seperti yang dialami warga Cimenyan 2 Kelurahan Mekarsari Kecamatan Banjar. Salah seorang korban gempa, Dede Hadiyatna (42) mengaku saat gempa berkekuatan 7,3 skala richter goncang daerahnya, semua atap rumahnya hancur. Untuk sementara, Dede dan ketiga anaknya tinggal di rumah itu dengan atap terpal. “Jika hujan dan malam tiba, kami kedinginan. Kalau mau pindah, anak-anak tidak mau, pengen tetap di sini,” ujarnya ketika ditemui Radar di rumahnya, Kampung Cimenyan 2, kemarin.

Dede memang sudah berusaha untuk membangun kembali atap rumahnya itu. Ia terpaksa ngutang Rp3 juta dari tetangganya agar bisa memperbaiki atap. “Namun dana sebesar itu kurang cukup memperbaiki atap. Jadi kami tetap memerlukan bantuan,” katanya. “Saya berharap pemerintah memberikan bantuan secepatnya karena kami butuh tempat berteduh. Kami tidak menyalahkan pemerintah akan hal ini, karena ini sudah menjadi bencana alam,” lanjut Dede.

Berdasarkan pantauan Radar di beberapa daerah di Kota Banjar, banyak korban gempa yang sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Kebanyakan dari mereka membutuhkan bantuan material dan sembako. Sedangkan bantuan dari pemerintah, mereka mengaku hingga saat ini belum menerimanya. Mereka hanya menerima bantuan seadanya dari masyarakat sekitar.

BARU DISALURKAN
Secara terpisah, Dinas Sosial Tenaga Kerja, dan Transmigarsi Kota Banjar sudah meyiapkan 1,9 ton beras, mi instan, minyak goreng, alat dapur dan kebutuhan pakaian . Namun bantuan tersebut baru disalurkan kemarin.
”Kita salurkan secara bertahap. Kita prioritaskan untuk mereka yang memang terkena dampak paling parah,” ujar Kepala bidang sosial Dinsosnakertrans Drs Asep Tatang Iskandar kepada Radar di ruang kerjanya, kemarin.

Untuk memudahkan kordinasi dalam penanganan para korban, lanjut Asep, Wali Kota Banjar dr Herman Sutrisno telah menetapkan kantor Disosnakertrans sebagai posko penanggulangan. “Jadi jika ada hal-hal yang berkaitan dengan penanganan pasca-bencana gempa, bisa langsung berkordinasi dengan kantor Dinsosnakertrans,” terangnya.

Asep melanjutkan, selain menyalurkan logistik, kemarin Dinsosnakertrans juga menyalurkan bantuan tenda bagi warga yang rumahnya hancur akibat gempa. “Ada beberapa tenda yang kita pinjam-pakaikan kepada warga yang memang rumahnya hancur dan tidak punya sanak famili. Bantuan hari ini (kemarin) juga kita salurkan,” imbuhnya

Asep mengimbau kepada seluruh anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk selalu siaga dan waspada mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk akibat bencana gempa ini. “Kami imbau agar Tagana selalu melakukan kordinasi lapangan antar-tim serta komponen lain. Bila ada suatu hal penting segera informasikan ke tingkat kota,” imbau Asep.

Para anggota Tagana juga diminta sosialisasikan tatacara penyelamatan diri saat hadapi bencana alam. Terutama di desa-desa dan pesisir pantai. “Kalau di kawasan pesisir rawan tsunami dan gempa bumi. Sedangkan di pegunungan rawan bencana tanah longsor, tak ada perbedaan jenis bencana. Semuanya membahayakan,” tegasnya. (yza/kun)

Pemkot Sumbang Korban Gempa

BANJAR – Wali Kota Banjar dr H Herman Sutrisno MM meninjau korban gempa, Mamat Warga RT 04/07 Pagak, Binangun Kecamatan Pataruman, kemarin. Pada kesempatan itu Herman menyerahkan bantuan berupa sembako kepada korban.

Kepada Radar, Herman Sutrisno mengatakan, sampai saat ini pemkot masih menginventarisir kerusakan rumah warga akibat kejadian gempa kemarin. "Kita hanya baru melaporkan ke pemrintah provinsi, tapi data korbannya masih belum dilaporkan secara resmi, setelah diinventarisir ulang ternyata banyak rumah yang rusak parah,” kata wali kota.

Karena masih diinventarisir, pemkot belum bisa memastikan kerugian yang sebenarnya. “Masih dihitung,” kata Herman. Sedangkan untuk mananganinya, pemkot tidak mempunyai anggaran khusus penanggulangan bencana, sedangkan kalau memakai dana yang ada terlebih dahulu, Herman mengaku khawatir melanggar hukum. (uda)

Pemkot Sumbang Korban Gempa

BANJAR – Wali Kota Banjar dr H Herman Sutrisno MM meninjau korban gempa, Mamat Warga RT 04/07 Pagak, Binangun Kecamatan Pataruman, kemarin. Pada kesempatan itu Herman menyerahkan bantuan berupa sembako kepada korban.

Kepada Radar, Herman Sutrisno mengatakan, sampai saat ini pemkot masih menginventarisir kerusakan rumah warga akibat kejadian gempa kemarin. "Kita hanya baru melaporkan ke pemrintah provinsi, tapi data korbannya masih belum dilaporkan secara resmi, setelah diinventarisir ulang ternyata banyak rumah yang rusak parah,” kata wali kota.

Karena masih diinventarisir, pemkot belum bisa memastikan kerugian yang sebenarnya. “Masih dihitung,” kata Herman. Sedangkan untuk mananganinya, pemkot tidak mempunyai anggaran khusus penanggulangan bencana, sedangkan kalau memakai dana yang ada terlebih dahulu, Herman mengaku khawatir melanggar hukum. (uda)

Pemkot Sumbang Korban Gempa

BANJAR – Wali Kota Banjar dr H Herman Sutrisno MM meninjau korban gempa, Mamat Warga RT 04/07 Pagak, Binangun Kecamatan Pataruman, kemarin. Pada kesempatan itu Herman menyerahkan bantuan berupa sembako kepada korban.

Kepada Radar, Herman Sutrisno mengatakan, sampai saat ini pemkot masih menginventarisir kerusakan rumah warga akibat kejadian gempa kemarin. "Kita hanya baru melaporkan ke pemrintah provinsi, tapi data korbannya masih belum dilaporkan secara resmi, setelah diinventarisir ulang ternyata banyak rumah yang rusak parah,” kata wali kota.

Karena masih diinventarisir, pemkot belum bisa memastikan kerugian yang sebenarnya. “Masih dihitung,” kata Herman. Sedangkan untuk mananganinya, pemkot tidak mempunyai anggaran khusus penanggulangan bencana, sedangkan kalau memakai dana yang ada terlebih dahulu, Herman mengaku khawatir melanggar hukum. (uda)

32 PSK Pangandaran Terjaring Razia

PANGANDARAN – Untuk menjaga kesucian Ramadan, Polsek Pangandaran bersama pihak kecamatan dan Danramil merazia tempat hiburan malam, Kamis (3/9) malam.
Operasi yang dipimpin Kapolsek Pangandaran AKP Asep KH Baehaqi ini berhasil menjaring 32 Pekerja Seks Komersial (PSK) dan menyita 48 botol miras.

Razia dilaksanakan pukul 21.00 hingga 24.00 dengan menyisir kafe, panti pijat, kost-kostan di beberapa tempat. Sebanyak 20 personil Polsek juga berhasil mengamankan sejumlah PSK yang berasal kafe-kafe di daerah Pamugaran dan Pasar Wisata (PW).

Operasi juga, lanjut Kapolsek, dilancarkan di beberapa kos-kosan. Dan target utamanya adalah para PSK yang berkeliran di luar seperti di daerah pantai dan fasilitas umum. “Operasi pekat di bulan Ramadan ini adalah yang pertama,” tambahnya.

Dengan operasi ini, diharapkan Kapolsek bisa menjadi pelajaran bagi mereka yang terjaring rajia. Pasalnya, dibulan yang penuh berkah ini daerah wisata Pangandaran harus lebih menghormati dan menghargai bulan ramadhan ini, “mudah-mudahan mereka jera. Karena operasi pekat akan terus dilakukan selama bulan ramadhan ini hingga tuntas,” tegasnya. (rok)

Gempa, 600 Santri Pulang Kampung

Kegiatan Ramadan di Pontren Condong Terhenti
CIBEUREUM – Kegiatan Ramadan di Pondok Pesantren Riyadul Ulum Wadda’ah Kelurahan Setia Negara, Kecamatan Cibeureum, Tasikmalaya tau pesantren Condong terhenti total akibat gempa Rabu (2/9) yang berkekuatan 7,3 SR. Sebab, hampir seluruh bangunan rusak. Karena itu pimpinan Pontren meliburkan lebih awal seluruh santri. Dari sebanyak 750 santri yang masih mondok sebanyak 150 orang.

Pantauan Radar kemarin menunjukkan, kerusakan terparah terjadi pada bangunan asrama putera yang hancur hampir 60 persen. Bagian yang rusak parah yaitu kanopi yang melindungi ruang MCK (mandi, cuci, kakus) asrama putera. Padahal, ruang MCK tersebut digunakan oleh seluruh santri pria. Bangunan lainnya yang rusak antara lain gedung SMP dan SMA Terpadu Riyadul Ulum Wadda’ah, gedung MI dan Masjid.

Ratusan santri telah meninggalkan pontren untuk liburan lebaran. Dari sekitar 750 orang jumlah keseluruhan santri, pada hari Kamis (3/9) kemarin hanya bersisa sekitar 150 orang yang masih tinggal di pontren.
“Dengan berbagai pertimbangan yang ada, pihak pesantren akhirnya memberi kesempatan libur lebih awal seminggu bagi seluruh santri. Kendati memang masih banyak agenda kegiatan pontren yang harus dilaksanakan. Namun, dengan peristiwa gempa ini, semua rencana kegiatan bulan Ramadan yang tersisa terpaksa harus dihentikan,” ungkap KH. Diding Darul Falah, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Riyadul Ulum Wadda’ah kepada Radar, Kamis (3/9).

Sebelumnya, menurut Diding, kegiatan rutin bulan Ramadan sudah berlangsung dengan sangat teratur dan khusyuk. Rangkaian kegiatan Ramadan tersebut antara lain salat wajib berjamaah, wirid dan tadarrus bersama selepas salat subuh dan dzuhur, bahsul masail (tanya jawab masalah keagamaan) setiap pukul 13.00 WIB s.d.14.00 WIB, tausyiyah dan kultum sebelum berbuka puasa, buka puasa bersama, shalat tarawih berjamaan, dan sorogan selepas salat tarawih. Akibat gempa, sejak Rabu (2/9), seluruh rangkaian kegiatan Ramadan itu terganggu dan terpaksa dihentikan.

Diding berharap agar bantuan logistik tetap disalurkan untuk pontren yang dipimpinnya itu. Sejauh ini, baru Departemen Sosial yang menurunkan bantuan logistik dan tenda darurat untuk korban bencana gempa di pontren Riyadul Ulum Wadda’ah. Selain itu, untuk solusi jangka panjang, Diding berharap agar bantuan untuk merenovasi bangunan-bangunan pontren Riyadul Ulum Wadda’ah yang rusak segera dapat diterima oleh pihaknya. Sebab, mulai tanggal 10 Syawal nanti, para santri akan kembali belajar di pontren tersebut.

Sementara itu, dari pantauan Radar, suasana di pontren Riyadul Ulum Wadda’ah saat ini sudah mulai kondusif dan tenang. Para santri, staf pengajar dan pimpinan pontren kini sudah terlihat tenang dan hanya menanti datangnya berbagai bantuan sosial. Kondisi ini sangat berlainan dengan hari Rabu (2/9) di mana rasa panik dan syok dirasakan hampir oleh seluruh penghuni pontren Riyadul Ulum Wadda’ah.

Asep Ridwan (22) staf pengajar Pontren Riyadul Ulum Wadda’ah, yang juga saksi mata kejadian runtuhnya bangunan asrama putera pontren tersebut mengatakan di asrama putera terdapat 15 orang santri putera yang tengah beristirahat. Pas kejadian, sebagian besar santri di asrama putera berloncatan dari lantai 3 gedung itu. Akibatnya, 4 orang di antaranya luka-luka. Ratusan santri perempuan malah sedang berada di gedung serba guna, hingga mereka berdesakan keluar dari gedung itu. Beruntung, gedung itu selamat dari keruntuhan,” tutur Asep.
“Hari ini (3/9) suasana pontren sudah lebih tenang. Ini karena sebagian besar teman-teman santri sudah libur dan pulang ke rumahnya. Bantuan sosial pun sudah kami terima. Padahal, tadi malam, kami semua tidak bisa istirahat dengan tenang karena masih takut ada gempa susulan,” lanjut Asep. (rur)

DPRD Rapat Koordinasi Gempa

Minta Pemerintah Bentuk
Tim Penyaluran Bantuan

PAMENGPEUK – Tanggap darurat terhadap bencana gempa dilakukan 9 anggota DPRD yang belum lama dilantik. Mereka berasal dari daerah pemilihan V yang daerahnya memiliki kerusakan paling parah dibanding kecamatan lainnya. Untuk pemulihan wilayah dan bantuan, wakil rakyat itu menggelar rapat koordinasi kemarin.

Setelah melakukan pemantauan ke lapangan sejak Rabu (3/9) malam hingga Kamis (4/9) siang, wakil rakyat itu kemudian mengumpulkan camat dan kepala desa yang ada di 4 kecamatan. Yaitu Kecamatan Pamengpeuk, Cibalong, Cikelet dan Cisompet.

Anggota DPRD dari daerah pemilihan V itu dibagi dalam dua kelompok. Mereka menyusuri jalur berbeda. Kelompok pertama mendatangi empat kecamatan yaitu Pamengpeuk, Cibalong, Cikelet dan Cisompet. Sementara kelompok lainnya menyusuri jalur Bungbulang, Caringin, Cisewu hingga Talegong.
Ade Ginanjar dari Partai Golkar mengungkapkan, rakor di Kecamatan Pameungpeuk dilakukan untuk menginventarisir sejauh mana kerusakan yang terjadi. Termasuk menyusun prioritas apa yang harus dikerjakan sebagai langkah tanggap darurat bencana.

Dalam rakor terungkap, pascagempa masih banyak korban yang kondisinya memprihatinkan. Tenda darurat (bantuan pemerintah) dibangun sebagai tempat pengungsian ada di Kecamatan Cikelet. Sementara di kecamatan lain, hingga Kamis (3/9) sore belum mendapatkan tenda bantuan pemerintah.
Kabar baik untuk para anggota DPRD hanya didapat dari tenaga kesehatan yang diwakili oleh Kepala Puskesmas Pameungpeuk dr Nadya. Pihaknya telah mendapatkan bantuan obat-obatan dari Pemkab Garut untuk pengobatan para korban.

Selain itu bantuan juga telah tiba dari Provinsi Jawa Barat yaitu empat tenaga ahli dokter bedah tulang. Mereka bisa melakukan operasi di Puskesmas Pameungpeuk dan sudah lengkap dengan obat-obatan. Ditambah adanya dua dokter umum yang saat ini sudah mulai bekerja.
Ade Ginanjar yang dalam rapat koordinasi tersebut ditemani Ade Suryana, anggota DPRD dari Dapil V dari Partai Amanat Nasional. Pihaknya berjanji akan terus memantau untuk memastikan semua bantuan dari pemerintah. Agar bantuan bagi korban bencana ini sampai tepat sasaran. (ari)