Sabtu, September 05, 2009

Pasien RSU dr Slamet Berhamburan

GARUT – Saat gempa berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang kota Garut, hampir seluruh pasien dan pembesuk RSU dr Slamet berhamburan ke luar ruangan. Mereka memilih tempat yang lebih aman seperti di taman dan lahan kosong.

Pantauan Radar di lokasi, tidak sedikit keluarga pasien malah menyelamatkan diri tanpa memboyong keluarganya yang sedang dirawat. Akibatnya, beberapa pasien di antaranya ada yang sempoyongan ke luar ruangan tanpa dikawal. Selain terjadi kepanikan, di ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) berdasarkan catatan sementara dua orang pasien masuk mengalami luka parah di bagian kepala. Keduanya adalah korban yang tertimpa bangunan saat gempa terjadi.

Korban bernama Ivan (22) warga Kampung Cimuncang RT 01/03 Kelurahan Cimuncang Kecamatan Garut Kota. Dia mengalamai luka di bagian kaki dan tangan akibat terkena pecahan kaca saat rumahnya roboh.
Seorang lagi bernama Rositawati Ssos, warga Tarogong Kidul. Korban mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa benda keras saat berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jalan Siliwangi Garut.

Menurut suami Rositawati, Drs Dien Kusdinar MSi, istrinya kecelakaan saat melakukan tugas kontrol bersama Drs Agus Hendarsyah sebagai Kabid Pembinaan Sat Pol PP Garut. Kejadian lain di Garut kota terjadi di Jalan Jendral Sudirman. Salah satu bangunan bengkel milik Suparman, bagian depan bangunan roboh. Beruntung, dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa. (nal)

Empat Tewas, Empat Luka Berat

Imbas Gempa Tasik malaya
GARUT – Sedikitnya tiga warga dikabarkan tewas dan empat lainnya luka berat akibat tertimpa bangunan rumah saat gempa berkekuatan 7,3 skala richter (berpusat 8,24 LS-107.32 BT episentrum Tasikmalaya) mengguncang Kabupaten Garut kemarin. Korban tewas dan luka berat berasal dari Garut Selatan.

Korban tewas adalah Amud (50), warga Kampung Neglasari Desa/ Kecamatan Cisompet, Cepi bin Ade (6) warga Kampung Pabuaran 01/02 Desa Mancagahar Kecamatan Pameungpeuk dan Novi Susilawati (16) warga Kampung Kiarakohok 01/05 Desa Pamalayan Kecamatan Cikelet dan Sahrio (70) warga Kecamatan Peundeuy.
Sementara enam korban korban luka berat belum bisa diidentifiasi. Informasi yang diterima Radar, tadi malam mereka dari Garut Selatan dilarikan ke RSU dr Slamet Garut. Sedangkan 51 lainnya luka ringan (lihat tabel).

Gempa yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 14.55 itu membuat seluruh warga di Kabupaten Garut panik. Apalagi, di masing-masing wilayah (mulai utara hingga selatan) terdapat kerusakan. Mulai fasilitas umum hingga perumahan warga (lihat tabel).

Dari pantuan Radar, saat peristiwa terjadi, warga di pusat kota panik. Sore kemarin yang biasanya diisi acara ngabuburit, berubah mencekam. Seluruh warga berhamburan ke luar rumah dan mencari tempat yang lebih aman. Termasuk para karyawan toko dan supermarket berhamburan ke luar. Seperti di Jalan Siliwingi, karyawan dan karyawati Yogya dept store berhamburan ke luar. Mereka memilih berada di tengah jalan.

Kemudian masih di pusat kota, sebagian atap toko sandal dan sepatu Mentari Collection roboh. Akibatnya etalase hancur. Beruntung dalam kejadian tersebut pembeli sedang sepi dan 9 karyawannya berhasil menyelamatkan diri. Di tempat lain, karyawan sejumlah perbankan yang masih berada di kantor, terlihat berhamburan. Bahkan di antara mereka ada yang histeris ketakutan.

Tak hanya itu, bangunan gedung DPRD Kabupaten Garut beberapa gentengnya jatuh. Saat kejadian hanya ada beberapa anggota dewan. Yakni H Ruchiyat Prawira serta Razab Prilyadi dari Golkar. Keduanya mengaku panik.“Saya sedang berada di ruang waki ketua dan ketika terasa (gempa, red) langsung lari keluar. Karena terdengar genteng berjatuhan,” terang Razab Prilyadi.

Warga Buat Tenda di Perbukitan
PAMEUNGPEUK – Musibah gempa yang melanda wilayah Garut Selatan menyiagakan aparat Pemkab Garut dan DPRD. Setelah kejadian, mereka menuju lokasi bencana di lima kecamatan terparah. Yakni Kecamatan Pameungpeuk, Cikelet, Cibalong, Caringin dan Mekarmukti.

Hingga tadi malam, warga lebih memilih berada di luar rumahnya. Bahkan sudah mendirikan tenda-tenda darurat sebagai tempat pengungsian di lahan perbuktian. Dari pantauan Radar di lapangan, korban yang mengalami luka berat dan ringan diberi pengobatan di Puskesmas Pamengpeuk. Namun puluhan pasien memilih berada di luar ruang perawatan karena khawatir terjadi gempa susulan.

“Yang berada di luar ini bukan hanya korban gempa, tapi pasien yang tengah menjalani perawatan. Mereka takut ada gempa susulan, jadi lebih memilih di luar,” jelas dr Nadya, kepala Puskesmas Pamengpeuk.
Sementara itu, Camat Cibalong Drs H Dikdik yang dihubungi lewat telepon genggamnya mengatakan, sudah mengimbau warga agar menjauhi garis pantai. Hal ini dilakukan mengingat gempa yang melanda berpotensi tsunami.

Meski demikian, kata Dikdik, ombak di laut cukup tenang. Demikian pula air laut tidak surut. Dikdik sendiri saat dihubungi mengaku sedang berada di kantor kecamatan yang lokasinya tidak jauh dari bibir pantai (500 meter). “Air laut tenang, tapi kita instruksikan warga agar menjauhi pantai dan mengungsi ke perbukitan untuk mengantisipasi datangnya tsunami,” jelasnya.
Hal yang sama diungkapkan Camat Caringin Dra Uum. Menurutnya, setelah gempa reda, dirinya turun ke pelabuhan di Rancabuaya. Dari pantauannya, air laut dan ombak relatif tenang.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut yang ditemui di Puskesmas Pamengpeuk mengungkapkan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi. Yakni agar menurunkan bantuan tim medis dokter ahli bedah ortopedi lengkap dengan peralatan dan obat-obatan. Hal ini untuk melakukan operasi di Puskesmas Pamengpeuk.
Hendy mengungkapkan, saat ini sebagai langkah antisipasi awal, tim medis yang diturunkan di Puskesmas Pamengpeuk didatangkan dari puskesmas-puskesmas terdekat. Di antaranya 6 dokter dan lebih dari 20 perawat. (ari)

Wawali Jadi Korban Gempa

Tertimpa Bangunan saat
Hendak Menyelamatkan Diri

KOTA - Wakil Wali Kota Ir H Dede Sudrajat MP merupakan salah satu korban gempa yang mengguncang Tasik kemarin. Menurut keterangan ajudan pribadinya Slamet, ketika gempa terjadi, Dede masih ada di dalam ruangan. Namun ketika berada di tangga tengah untuk turun dari lantai dua bersama para staf dan ajudannya, Dede terkena hujanan eternit, genting dan dinding. Akibatnya, Dede pun langsung dievakuasi dan dilarikan ke RSU Tasikmalaya dan mendapatkan lima jahitan di tangannya.

“Bapak (wawali, red) biasanya meninggalkan ruangan lebih dari pukul 15.00, sedangkan kejadian (gempa) sebelum waktu itu. Tapi memang saat itu pun beliau tengah bersiap-siap menghadiri acara pisah sambut DPRD di Hotel Asri,” ungkap Slamet.

Masih menurut Slamet, usai diobati, Dede langsung menginstruksikan Direktur RSU Tasikmalaya H Wasisto agar siaga dalam pelayanan. “Beliau sempat meminta Direktur RSU untuk waspada, juga menengok korban yang mulai masuk berbarengan dengan dirinya. Setelah itu beliau pun langsung ikut rapat di bale kota untuk membahas bencana ini,” tandasnya.

H Wasisto membenarkan bila pihaknya telah merawat wakil wali kota. Bahkan tidak hanya wakil wali kota, puluhan korban pun, kemarin, berdatangan ke RSU untuk mendapatkan perawatan. “Saya langsung tarik seluruh medis yang sedang tidak tugas untuk bekerja melayani masyarakat, bahkan kita siaga satu. Seluruh medis harus stand by di rumah sakit, karena diperkirakan korban akan terus berdatangan, terlebih dari daerah pelosok,” jelasnya.

BALE KOTA RUSAK PARAH
Sementara itu gedung Bale Kota sendiri mengalami keruasakan parah akibat guncangan gempa tersebut. Sebagian besar kerusakan itu menimpa atap dan plafon. Malahan hampir semua plafon gedung tersebut terjatuh.

Dari amatan Radar, kerusakan terparah terjadi di ruangan bagian kesejahteraan rakyat (kesra). Di ruangan tersebut hampir semua plafon dan atapnya rusak. Tak ayal ruangan tersebut nampak hancur berantakan.
Selain ruangan tersebut, ruang lain yang juga rusak parah adalah aula, ruang bagian pembangunan, ruang wakil wali kota, ruang rapat wali kota, ruang bagian ekonomi dan plafon yang berada di area luar ruangan.

Saat kejadian, para pegawai pemkot memang masih sedang berada di kantor. Mereka lari menyelamatkan diri setelah kantor yang beralamat di Jalan Letnan Harun Nomor 1 itu terguncang hebat. ”Akibat panik, saya sampai jatuh,” ujar Jajang, staf bagian humas seraya menunjukkan luka di bagian kakinya.
Kata Jajang, selain dirinya, masih banyak pegawai pemkot yang lari tunggang langgang gedung yang mereka diami terguncang. ”Apalagi, saat itu masih jam kantor, jadi banyak yang sedang berada di ruangan,” terangnya.

Sementara itu Usep Sopyan, satuan pengamanan (satpam) Bale Kota mengungkapkan pengalamannya menyaksikan guncangan hebat yang melanda tempatnya bekerja itu. “Saya melihat Bale Kota terguncang. Terlihat dari kejauhan genting-genting mulai berjatuhan dan gedung seakan bergoyang,” ujarnya yang saat kejadian sedang berada di luar gedung.

Sementara berdasarkan pantauan Radar, usai terjadinya bencana tersebut, para pekerja tampak sibuk menyelamatkan barang-barang kantor—termasuk dokumen—agar tidak terkena air hujan. Beberapa barang kantor yang diselamatkan itu di antaranya komputer, televisi dan barang-barang elektronik lainnya. (tin/sep)

Jumat, September 04, 2009

Panik, Dua Orang Loncat dari Lantai 2

**Satu Di antaranya Mahasiswa Unsil
TASIK – Kepanikan saat gempa mengguncang Tasikmalaya, memaksa dua warga nekat melompat dari lantai dua. Peristiwa itu terjadi di lokasi berbeda. Yakni dialami salah seorang mahasiswa yang ngekost di Jalan Gunug Roay. Seorang lagi buruh bangunan di RSB Sayang Bunda Jalan Sukalaya 1.

Kejadian pertama dialami Sobur, salah seorang mahasiswa Unsil jurusan PJKR. Saat mengetahui gempa, lelaki yang sedang tidur itu lulungu kemudian meloncat dari kamar kost-nya di lantai dua. Aksi nekat itu mengakibatkan Sobur mengalami patah kaki. Kemudian pria nahas tersebut diboyong rekan-rekannya ke RSUD Tasikmalaya. “Sobur lagi tidur di kamarnya, karena semua panik ingin pada turun, tiba-tiba saja Sobur loncat dari lantai dua,” ungkap Ita salah seorang rekannya yang menunggu Sobur di RSUD.

Lanjut Ita, Sobur harus dirawat karena kondisinya cukup parah. Di tengah kepanikan itu rekan-rekan Sobur pun tak kuasa menahan tangis. Di lokasi berbeda, peristiwa serupa juga terjadi. Yakni dialami Anto, salah seorang buruh bangunan di Rumah Sakit Bersalin Sayang Bunda Jalan Sukalaya I. Beruntung, Anto selamat lantaran mendarat pada tumpukan pasir di sekitar bangunan. Kendati demikian, rekan-rekan Anto serta warga khususnya yang berada di Jalan Sukalaya II (bangunan RSB tembus ke Sukalaya II) semakin kaget. Namun setelah mengetahui Anto selamat, baik rekan-rekan kerja Anto dan warga lega. (tin)

Gempa Tasikmalaya Guncang Jawa

Korban Tewas di Priatim Capai 22 Orang
TASIK – Gempa berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang Pulau Jawa, kemarin. Episentrum gempa berada di 142 kilometer barat daya Tasikmalaya. Berdasarkan informasi BMKG, gempa terjadi di kedalaman 30 kilometer.Gempa terjadi pukul 14.55 dan berpusat 8,24 LS-107.32 BT. Selain di Tasikmalaya, guncangan keras diraskan warga di daerah lain. Seperti Banjar, Ciamis, Garut, Bandung, Cianjur, Sukabumi, Jakarta hingga Bali.

Di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, guncangan gempa begitu hebat. Seluruh warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Begitu pula karyawan pemerintah maupun swasta berlarian keluar dari gedung tempat mereka bekerja.Dari pantauan Radar, gempa terjadi tiga kali. Gempa pertama goncangannya terasa keras dan berlangsung sekitar 5 menit.

Akibatnya, bangunan rumah warga, institusi dan fasilitas umum sebagian rusak dan hancur. Selang beberapa menit kemudian, gempa menggoncang lagi. Namun kali ini tidak terlalu besar. Begitu juga dengan gempa ketiga, goncangan kecil dan berlangsung beberapa detik.Akibat gempa, ribuan rumah rusak dan hancur. Misalnya, di Karangnunggal, berdasar informasi Camat Drs Sunaryo MM, sebanyak 39 rumah rusak berat. Terdiri dari 4 rumah di Desa Cidadap, 13 di Cintawani, 18 di Cibatuireng dan 4 rumah di Cikapinis.Begitupula di Cipatujah, Camat Nazmuddin Aziz menyatakan 50 rumah rusak berat. Terparah di Desa Neglasari. Selain rumah, kantor Kecamatan Cipatujah jebol. “Warga sempat panik dengan adanya isu tsunami. Namun kini sudah ditenangkan,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Di Kecamatan Manonjaya, gempa meluluhlantahkan genting dan atap kanopi depan Masjid Agung Manonjaya. Akibat goncangan itu, wajah masjid bersejarah tersebut sebagian rusak. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Sedangkan di Kecamatan Cisayong, menurut data pemerintah setempat, gempa telah menghancurkan 505 rumah. Juga membuat 427 rumah rusak berat dan 414 rusak ringan. Misalnya, di Desa Mekarwangi Kecamatan Cisayong, 118 rumah rusak, terdiri dari 97 sedang dan 67 rusak berat. “Untuk mewanti-wanti adanya kabar gempa susulan, kami imbau warga untuk berjaga-jaga,” terang Oneng, kepala Desa Mekarwangi.Hal sama juga dilakukan nelayan di Kecamatan Cipatujah.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tasikmalaya Dedi Mulyadi menginformasikan, antisipasi kabar adanya gempa susulan, tadi malam kaum pria berjaga di luar rumah. Warga yang dekat dengan laut sudah mengungsi. “Kami juga menginstruksikan seluruh nelayan untuk sementara tidak boleh melaut,” katanya.Bupati Tasikmalaya Drs H Tatang Farhanul Hakim MPd menyatakan di Kabupaten Tasikmalaya untuk sementara akibat gempa, 3.771 rumah rusak. Dengan rincian 1.356 rumah rusak berat dan 2.415 rumah rusak ringan. Juga masjid rusak berat 13 dan ringan 4. “Untuk sementara, terparah di Kecamatan Cigalontang, 150 rumah rusak parah. Sekarang (tadi malam) kami memantau ke sana (Cigalontang),” ujarnya kepada Radar, tadi malam.

Gempa juga, lanjut Tatang, menyebabkan 6 orang meninggal dan 22 luka-luka serta 8 shock berat. Namun korban meninggal yang terdata baru dua orang. Yakni Yuliana (12) warga Kampung Cibiru Desa Karangmukti Salawu dan Hendra (7) warga Desa Sukasetia Kecamatan Cisayong.Untuk penanggulangan korban gempa, kata dia, pemerintah melakukan upaya tanggap darurat. Antara lain, pendirian tenda-tenda khusus di beberapa kecamatan, yakni Cigalontang, Pancatengah, Sodonghilir, Bojonggambir dan Cisayong.“Untuk yang rumahnya rusak, kami baru memberikan tanggap darurat, yakni memberikan bantuan makanan. Sedangkan untuk penanggulangan, besok (hari ini, red) kami akan rapat koordinasi,” terangnya.

Bencana gempa juga meluluhlantahkan sebagian bangunan di Kota Tasikmalaya dan menewaskan dua warga, yakni Wisnu (7,5 tahun) warga Sukasetia Kelurahan Sukaasih Kecamatan Purbaratu dan Irah (45) warga Kelurahan Setianegara Kecamatan Cibeureum.Adapun korban yang rumahnya rusak berat, yakni di Kecamatan Tamansari sebanyak 138 unit dan Purbaratu 8 unit dan Cibeureum 9 unit. Sedangkan di Tamansari, 9 rumah Perum Griya Tamansari rata dengan tanah dan 1 masjid Arrahmah kubahnya hancur. Rumah rusak akibat gempa juga terjadi di Ampera Kelurahan Panglayungan Kecamatan Cipedes. Sebanyak tiga rumah warga rusak. Sedangkan di Jalan Dr Sukarjo, mes Dahana rusak dan gedung NU sebagian rusak. Fasilitas lainnya juga rusak berat. Seperti Balai Kota Tasikmalaya, dinding tembok di hampir semua ruangan retak. Tiang penyangga gedung pun bergeser. Selain itu, sejumlah fasilitas umum seperti ATM, puskesmas, pesantren, kantor kelurahan, kos-kosan, bengkel dan lainnya sebagian ikut rusak.

Kerugian sementara diprediksi sekitar Rp500 juta. Di Ciamis, akibat gempa, bangunan Yogya Toserba retak, kantor pajak Ciamis hancur dan gedung SD retak. Selain itu, rumah di hampir 36 kecamatan mengalami rusak ringan dan berat. Di antaranya, di Dusun Cikole Wetan Desa Cijulang Kecamatan Cihaurbeuti, sebanyak 60 rumah rusak. sedangkan korban meninggal sebanyak dua orang, yakni H Marhamah (75) warga Cikole, Anewi (80) warga Dusun Kersaratu Desa Sindangjaya Kecamatan Mangunjaya, dan Pendeta Jr Falit (62) warga Banjarsari.Di Kecamatan Padaherang, menurut petugas Satpol PP Suratman, hingga pukul 22.15 baru tiga desa yang terdata kerusakan rumah warganya. Yakni Desa Sindangwangi 1 rumah ambruk, 7 rusak berat dan 52 rusak ringan. Desa Paledah, 2 rumah ambruk, 19 rumah rusak berat dan 36 rusak ringan. Sedangkan di Desa Bojongsari, 2 rumah ambruk, 7 rusak berat dan 6 rusak ringan.Kerusakan akibat gempa terparah terjadi di Kecamatan Banjarsari.

Data sementara Pemerintah Kecamatan Banjarsari hingga pukul 22.45 menyebutkan kerusakan akibat gempa terjadi di 11 desa dari 22 desa. Yakni 27 rumah hancur, 295 rusak berat dan 333 rumah rusak ringan. Juga 6 fasilitas ibadah dan 4 sarana pendidikan.“Itu baru sementara. Kemungkinan rumah rusak bertambah. Kami sedang menunggu laporan lanjutan dari desa lainnya,” jelas Camat Banjarsari Drs Uga Yugaswara MSi Sementara di Kota Banjar, dari pantauan Radar, saat gempa seluruh pusat perdagangan sempat tutup, termasuk Pasar Banjar.

Mereka panik karena mendengar informasi akan terjadinya gempa susulan.Akibat gempa, satu toko di Jalan Peta dan beberapa rumah ambruk. Selain itu, gedung DPRD baru yang belum rampung mengalami rusak. Juga kantor Pos Kota Banjar ambruk. Belum ada kabar korban, hanya tiga warga mengalami luka ringan dan berat akibat tertimpa reruntuhan.Data Polisi Resor Kota (Polresta) Banjar menyebutkan, rumah rusak berat mencapai 35 unit dan rusak ringan 141 unit. Tidak ada korban jiwa, hanya dua orang mengalami luka ringan dan satu orang luka berat.

Sedangkan di Garut, korban meninggal akibat gempa sebanyak 10 orang. Terdiri dari 6 orang di Cikelet, 2 Pameungpeuk, dan dua masing-masing di Cisompet dan Peundeuy.Korban meninggal yang baru teridentifikasi, yakni Ahmud (50) Kampung Neglasari Desa/Kecamatan Cisompet, Cepi bin Ade (6) warga Kampung Pabuaran 01/02 Desa Mancagahar Kecamatan Pamengpeuk, Novi Susilawati (16) warga kampung Kiarakohok 01/05 Desa Pamalayan Kecamatan Cikelet, dan Sahrio (70) warga Kecamatan Peundeuy. Dan korban luka ringan serta berat sebanyak 35 orang.Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan ribuan rumah rusak berat. Data sementara Pemerintah Kabupaten Garut pukul 23.45 menunjukkan, 1.161 rusak berat, 544 rusak sedang, 1.296 rusak ringan. Juga tiga sekolah hancur. Antara lain, MI Limbangan, SD Purbayani Kecamatan Caringin, dan SD Cisompet. Gempa juga menyebabkan 20 masjid rusak ringan dan 36 rusak berat.

PANGDAM TINJAU LOKASI GEMPA
Sementara itu pada hari itu juga, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Rasyid Qurnaen Aquary, mengunjungi korban gempa di Cisayong Kabupaten Tasikmalaya. Namun sebelumnya, Pangdam terlebih dahulu meninjau rumah sakit darurat milik Rumah Sakit Jasa Kartini dan Posko Bencana Gempa Kodim 0612 di Makodim 0612 Tasikmalaya.Pangdam menyebutkan berdasar data di Posko Bencana Gempa hingga pukul 10.30, jumlah korban meninggal dunia di wilayah Korem 062/ Tarumanegara sebanyak 38 jiwa.

“Luka berat 259 dan luka ringan 49. Sementara untuk rumah yang rusak berat 955, dan rusak ringan 975,” ujarnya kepada Radar, tadi malam.Bagi korban rumah rusak, Pangdam juga menyiapkan bantuan beras. ”Kita sudah siapkan beras. Mungkin nanti kita akan drop dulu di sini (Posko Bencana) atau di tempat lain, sebelum nanti kita sebarkan ke lokasi korban gempa,” jelasnya.

Ditambahkan dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan untuk memberikan bantuan beras dan mi instan ke korban bencana. “Gubernur sudah siap beras dan mi rebus,” tambahnya. (dir/uym/rip/tin/bmp/isr/one/ari/sep)