Sabtu, September 05, 2009

Wisnu Tewas Tertimpa Tembok


ASIK – Wisnu, bocah berusia tujuh setengah tahun, asal Kampung Suka Setia Kelurahan Suka Asih Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya, tewas tertimpa tembok saat gempa. Menurut kesaksian Entis, warga setempat, saat terjadi gempa Wahyu dan warga lain berlari keluar rumah dan berlindung di sebuah gang. Namun hahas, tembok rumah di gang tersebut malah ambruk menimpa Wahyu dan korban lainnya.
“Dinding rumah yang doyong menimpa Wisnu dan beberapa warga lain yang sedang berlindung di baliknya. Ketika Wisnu, saya angkat kepalanya nyaris lepas, keadaannya sungguh mengenaskan,” ungkap dia.

Sebenarnya, tambah dia, ada delapan warga yang tertimpa reruntuhan. Mereka adalah, Ny Yayan, Ajril, Adit, Elis, Yopi, Yayah dan Irah. “Tujuh tetangga sekaligus saudara kami menjadi korban runtuhnya tembok tersebut. Empat orang dibawa ke mantri (kesehatan), satu sedang dirawat di rumah sakit dan satu (Wisnu) meninggal,” papar dia.

Entik yang juga saudara dekat Wahyu, mengaku terpukul atas kejadian ini. “Kami semua tidak pernah menyangka. Cobaan terjadi begitu tiba-tiba. Wahyu anaknya ceria dan lincah, sekarang tiba-tiba kita semua tidak bisa melihatnya lagi,” ucapnya.

Dia mengatakan seluruh korban memiliki hubungan kekerabatan. “Kami sekampung hampir seluruhnya memiliki kekerabatan, tetangga tetangga saya adalah saudara, sedih sekali melihat mereka menjadi korban gempa,” terang dia.

**Ciamis
Sedangkan Ihsan Fauzi, guru Madrasah Sindang Kasih Kabupaten Ciamis, mengatakan gempa terjadi saat para santrinya sedang menunggu waktu masuk sekolah agama. ”Ada beberapa anak yang sedang bermain di sekitar madrasah, tiba-tiba saja gempa terjadi dan mengambrukan atap. Puing–puing atap menimpa beberapa santri, enam mengalami luka berat,” jelas dia.

Ihsan mengemukakan tiga santri dirawat di rumah sakit umum, tiga santri dilarikan ke puskesmas. Santri yang dirawat di rumah sakit adalah Jajang ( 11), Mukammad Irsan (9) dan Chandra Mulin (10). Irsan mengalami patah tulang hidung dan lebam-lebam pada wajah. (ath)

Gempa Tasikmalaya Ramai di Facebook

Situs jejaring sosial Facebook ramai dengan testimoni tentang gempa Rabu (2/9) siang yang berpusat barat daya Kabupaten Tasikmalaya. Macam-macam komentar dan berita ditulis pengguna Facebook dalam dinding mereka atau dinding teman-temannya.

Dadang Sudardja, misalnya, melaporkan situasi terakhir di beberapa lokasi kejadian gempa dan kebutuhan para korban di lapangan. Kini 5.000 orang mengungsi, 15 rumah terkubur, puluhan orang luka berat.

Kebutuhan di lapangan adalah makanan, obat-obatan dan penerangan. Untuk Kabupaten Cianjur diperlukan alat-alat berat, selimut dan makanan bayi. Karena masih ada sekitar 15 rumah yang tertimbun longsor. Proses evakuasi sedang dan berjalan baru 13 orang yang sudah ditemukan.

Untuk Pangalengan Kabupaten Bandung diperlukan bantuan makanan segera dan makanan bayi setiap titik pengungsi ada 250 warga. “Di perkirakan ada seribuan warga yang memerlukan makan cepat saji dan diesel untuk penerangan (lampu petromak),” tutur Dadang dalam dinding Facebook-nya.

Lain lagi dengan Shahibah Yuliani, mahasiswi pasca-sarjana Universitas Negeri Jakarta yang panik karena gempa. “Lagi kuliah gempa. Yang tadinya pusing lihat dosen ceramah, jadi tambah pusing. Ngeri juga, untung langsung keluar, apalah jadinya jika ada susulan. Naudzubillah,” tuturnya.

Berbagai keprihatinan dan keresahan muncul lewat situs jejaring sosial internet terbesar saat ini tersebut. Facebook jadi semacam penghubung pesan bagi mereka yang memiliki kabar atau sekadar prihatin dengan peristiwa yang luar biasa ini. (rur)

Pasien RSU dr Slamet Berhamburan

GARUT – Saat gempa berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang kota Garut, hampir seluruh pasien dan pembesuk RSU dr Slamet berhamburan ke luar ruangan. Mereka memilih tempat yang lebih aman seperti di taman dan lahan kosong.

Pantauan Radar di lokasi, tidak sedikit keluarga pasien malah menyelamatkan diri tanpa memboyong keluarganya yang sedang dirawat. Akibatnya, beberapa pasien di antaranya ada yang sempoyongan ke luar ruangan tanpa dikawal. Selain terjadi kepanikan, di ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) berdasarkan catatan sementara dua orang pasien masuk mengalami luka parah di bagian kepala. Keduanya adalah korban yang tertimpa bangunan saat gempa terjadi.

Korban bernama Ivan (22) warga Kampung Cimuncang RT 01/03 Kelurahan Cimuncang Kecamatan Garut Kota. Dia mengalamai luka di bagian kaki dan tangan akibat terkena pecahan kaca saat rumahnya roboh.
Seorang lagi bernama Rositawati Ssos, warga Tarogong Kidul. Korban mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa benda keras saat berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jalan Siliwangi Garut.

Menurut suami Rositawati, Drs Dien Kusdinar MSi, istrinya kecelakaan saat melakukan tugas kontrol bersama Drs Agus Hendarsyah sebagai Kabid Pembinaan Sat Pol PP Garut. Kejadian lain di Garut kota terjadi di Jalan Jendral Sudirman. Salah satu bangunan bengkel milik Suparman, bagian depan bangunan roboh. Beruntung, dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa. (nal)

Empat Tewas, Empat Luka Berat

Imbas Gempa Tasik malaya
GARUT – Sedikitnya tiga warga dikabarkan tewas dan empat lainnya luka berat akibat tertimpa bangunan rumah saat gempa berkekuatan 7,3 skala richter (berpusat 8,24 LS-107.32 BT episentrum Tasikmalaya) mengguncang Kabupaten Garut kemarin. Korban tewas dan luka berat berasal dari Garut Selatan.

Korban tewas adalah Amud (50), warga Kampung Neglasari Desa/ Kecamatan Cisompet, Cepi bin Ade (6) warga Kampung Pabuaran 01/02 Desa Mancagahar Kecamatan Pameungpeuk dan Novi Susilawati (16) warga Kampung Kiarakohok 01/05 Desa Pamalayan Kecamatan Cikelet dan Sahrio (70) warga Kecamatan Peundeuy.
Sementara enam korban korban luka berat belum bisa diidentifiasi. Informasi yang diterima Radar, tadi malam mereka dari Garut Selatan dilarikan ke RSU dr Slamet Garut. Sedangkan 51 lainnya luka ringan (lihat tabel).

Gempa yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 14.55 itu membuat seluruh warga di Kabupaten Garut panik. Apalagi, di masing-masing wilayah (mulai utara hingga selatan) terdapat kerusakan. Mulai fasilitas umum hingga perumahan warga (lihat tabel).

Dari pantuan Radar, saat peristiwa terjadi, warga di pusat kota panik. Sore kemarin yang biasanya diisi acara ngabuburit, berubah mencekam. Seluruh warga berhamburan ke luar rumah dan mencari tempat yang lebih aman. Termasuk para karyawan toko dan supermarket berhamburan ke luar. Seperti di Jalan Siliwingi, karyawan dan karyawati Yogya dept store berhamburan ke luar. Mereka memilih berada di tengah jalan.

Kemudian masih di pusat kota, sebagian atap toko sandal dan sepatu Mentari Collection roboh. Akibatnya etalase hancur. Beruntung dalam kejadian tersebut pembeli sedang sepi dan 9 karyawannya berhasil menyelamatkan diri. Di tempat lain, karyawan sejumlah perbankan yang masih berada di kantor, terlihat berhamburan. Bahkan di antara mereka ada yang histeris ketakutan.

Tak hanya itu, bangunan gedung DPRD Kabupaten Garut beberapa gentengnya jatuh. Saat kejadian hanya ada beberapa anggota dewan. Yakni H Ruchiyat Prawira serta Razab Prilyadi dari Golkar. Keduanya mengaku panik.“Saya sedang berada di ruang waki ketua dan ketika terasa (gempa, red) langsung lari keluar. Karena terdengar genteng berjatuhan,” terang Razab Prilyadi.

Warga Buat Tenda di Perbukitan
PAMEUNGPEUK – Musibah gempa yang melanda wilayah Garut Selatan menyiagakan aparat Pemkab Garut dan DPRD. Setelah kejadian, mereka menuju lokasi bencana di lima kecamatan terparah. Yakni Kecamatan Pameungpeuk, Cikelet, Cibalong, Caringin dan Mekarmukti.

Hingga tadi malam, warga lebih memilih berada di luar rumahnya. Bahkan sudah mendirikan tenda-tenda darurat sebagai tempat pengungsian di lahan perbuktian. Dari pantauan Radar di lapangan, korban yang mengalami luka berat dan ringan diberi pengobatan di Puskesmas Pamengpeuk. Namun puluhan pasien memilih berada di luar ruang perawatan karena khawatir terjadi gempa susulan.

“Yang berada di luar ini bukan hanya korban gempa, tapi pasien yang tengah menjalani perawatan. Mereka takut ada gempa susulan, jadi lebih memilih di luar,” jelas dr Nadya, kepala Puskesmas Pamengpeuk.
Sementara itu, Camat Cibalong Drs H Dikdik yang dihubungi lewat telepon genggamnya mengatakan, sudah mengimbau warga agar menjauhi garis pantai. Hal ini dilakukan mengingat gempa yang melanda berpotensi tsunami.

Meski demikian, kata Dikdik, ombak di laut cukup tenang. Demikian pula air laut tidak surut. Dikdik sendiri saat dihubungi mengaku sedang berada di kantor kecamatan yang lokasinya tidak jauh dari bibir pantai (500 meter). “Air laut tenang, tapi kita instruksikan warga agar menjauhi pantai dan mengungsi ke perbukitan untuk mengantisipasi datangnya tsunami,” jelasnya.
Hal yang sama diungkapkan Camat Caringin Dra Uum. Menurutnya, setelah gempa reda, dirinya turun ke pelabuhan di Rancabuaya. Dari pantauannya, air laut dan ombak relatif tenang.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut yang ditemui di Puskesmas Pamengpeuk mengungkapkan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi. Yakni agar menurunkan bantuan tim medis dokter ahli bedah ortopedi lengkap dengan peralatan dan obat-obatan. Hal ini untuk melakukan operasi di Puskesmas Pamengpeuk.
Hendy mengungkapkan, saat ini sebagai langkah antisipasi awal, tim medis yang diturunkan di Puskesmas Pamengpeuk didatangkan dari puskesmas-puskesmas terdekat. Di antaranya 6 dokter dan lebih dari 20 perawat. (ari)

Wawali Jadi Korban Gempa

Tertimpa Bangunan saat
Hendak Menyelamatkan Diri

KOTA - Wakil Wali Kota Ir H Dede Sudrajat MP merupakan salah satu korban gempa yang mengguncang Tasik kemarin. Menurut keterangan ajudan pribadinya Slamet, ketika gempa terjadi, Dede masih ada di dalam ruangan. Namun ketika berada di tangga tengah untuk turun dari lantai dua bersama para staf dan ajudannya, Dede terkena hujanan eternit, genting dan dinding. Akibatnya, Dede pun langsung dievakuasi dan dilarikan ke RSU Tasikmalaya dan mendapatkan lima jahitan di tangannya.

“Bapak (wawali, red) biasanya meninggalkan ruangan lebih dari pukul 15.00, sedangkan kejadian (gempa) sebelum waktu itu. Tapi memang saat itu pun beliau tengah bersiap-siap menghadiri acara pisah sambut DPRD di Hotel Asri,” ungkap Slamet.

Masih menurut Slamet, usai diobati, Dede langsung menginstruksikan Direktur RSU Tasikmalaya H Wasisto agar siaga dalam pelayanan. “Beliau sempat meminta Direktur RSU untuk waspada, juga menengok korban yang mulai masuk berbarengan dengan dirinya. Setelah itu beliau pun langsung ikut rapat di bale kota untuk membahas bencana ini,” tandasnya.

H Wasisto membenarkan bila pihaknya telah merawat wakil wali kota. Bahkan tidak hanya wakil wali kota, puluhan korban pun, kemarin, berdatangan ke RSU untuk mendapatkan perawatan. “Saya langsung tarik seluruh medis yang sedang tidak tugas untuk bekerja melayani masyarakat, bahkan kita siaga satu. Seluruh medis harus stand by di rumah sakit, karena diperkirakan korban akan terus berdatangan, terlebih dari daerah pelosok,” jelasnya.

BALE KOTA RUSAK PARAH
Sementara itu gedung Bale Kota sendiri mengalami keruasakan parah akibat guncangan gempa tersebut. Sebagian besar kerusakan itu menimpa atap dan plafon. Malahan hampir semua plafon gedung tersebut terjatuh.

Dari amatan Radar, kerusakan terparah terjadi di ruangan bagian kesejahteraan rakyat (kesra). Di ruangan tersebut hampir semua plafon dan atapnya rusak. Tak ayal ruangan tersebut nampak hancur berantakan.
Selain ruangan tersebut, ruang lain yang juga rusak parah adalah aula, ruang bagian pembangunan, ruang wakil wali kota, ruang rapat wali kota, ruang bagian ekonomi dan plafon yang berada di area luar ruangan.

Saat kejadian, para pegawai pemkot memang masih sedang berada di kantor. Mereka lari menyelamatkan diri setelah kantor yang beralamat di Jalan Letnan Harun Nomor 1 itu terguncang hebat. ”Akibat panik, saya sampai jatuh,” ujar Jajang, staf bagian humas seraya menunjukkan luka di bagian kakinya.
Kata Jajang, selain dirinya, masih banyak pegawai pemkot yang lari tunggang langgang gedung yang mereka diami terguncang. ”Apalagi, saat itu masih jam kantor, jadi banyak yang sedang berada di ruangan,” terangnya.

Sementara itu Usep Sopyan, satuan pengamanan (satpam) Bale Kota mengungkapkan pengalamannya menyaksikan guncangan hebat yang melanda tempatnya bekerja itu. “Saya melihat Bale Kota terguncang. Terlihat dari kejauhan genting-genting mulai berjatuhan dan gedung seakan bergoyang,” ujarnya yang saat kejadian sedang berada di luar gedung.

Sementara berdasarkan pantauan Radar, usai terjadinya bencana tersebut, para pekerja tampak sibuk menyelamatkan barang-barang kantor—termasuk dokumen—agar tidak terkena air hujan. Beberapa barang kantor yang diselamatkan itu di antaranya komputer, televisi dan barang-barang elektronik lainnya. (tin/sep)