Sabtu, September 05, 2009

Berbuka Puasa di Bawah Tenda
RAJAPOLAH – Sebanyak enam keluarga di Kampung Tanjungjaya RT 07/05 Desa Margajaya Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya terpaksa berbuka puasa di luar rumah dengan menggelar tikar dan membuat tenda dari terpal. Mereka tidak berani kembali ke rumah karena selain rusak akibat gempa, mereka juga khawatir terjadi gempa susulan.

Seperti dilakukan Rojak Nurjaman (65) dan keluarganya. Ia kemarin sore terpaksa berbuka puasa di bawah tenda yang dibangunnya tak jauh dari lokasi rumahnya. Ia khawatir karena tembok rumahnya roboh dan hingga saat ini masih belum dibereskan. “Saya juga mungkin akan tidur disini. Karena di dalam rumah pun kami tidak bisa tidur. Banyak reruntuhan tembok. Rencananya mungkin besok kami mulai membersihkan reruntuhan itu,” ucap Rojak diamini istrinya.

Hal senada dikatakan Salim (50), tetangga Rojak. Rumah Salim pun rusak parah karena selain atapnya yang ambrol juga tembok-temboknya roboh dan retak-retak. “Kami takut akan ada gempa susulan, maka kami pun ikut menggelar tikar dan berbuka puasa di tempat ini bersama anggota keluarga lainnya. Kami mungkin akan tidur disini. Biarpun dingin asal selamat. Kami hanya waspada seandainya terjadi gempa lagi,” tutur dia.

Sementara di tempat terpisah, ratusan warga di Kampung Kerenceng Desa Guranteng Kecamatan Rajapolah menempati sebidang tanah lapang di perkampungan itu. Mereka membuat tenda-tenda darurat sebagai tempat tinggal sementara. Maklum, hampir 40 rumah mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat.
“Mereka masih ketakutan untuk kembali ke rumahnya. Apalagi tidak sedikit yang mengalami rusak berat. Sebenarnya kami di sini telah menghubungi pihak Dinsos untuk meminta bantuan tenda-tenda yang layak agar masyarakat di sini tidak kedinginan. Tapi sampai saat ini masih belum datang,” ujar H Dedy Permana, salah seorang tokoh masyarakat Pagerageung.

Dia bersama para pemuda desa setempat dan anggota KNPI Kecamatan Pagerageung mencoba memberikan pertolongan pertama guna meringankan beban warga. Terutama dengan mengevakuasi warga dan menjaga harta bendanya yang berada di rumahnya masing-masing. (sla)

Bocah di Cisayong juga Jadi Korban

CISAYONG - Akibat gempa tektonik yang terjadi pukul 14.55 kemarin, tercatat 3 orang di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya mengalami luka dan seorang meninggal dunia. Korban yang mengalami luka salah satunya adalah Eti, warga Kampung Sukananjung RT 22/06 Desa Sukasetia Kecamatan Cisayong. Sedangkan yang meninggal dunia adalah Hendra seorang bocah berusia 5 tahun. Keduanya mengalami luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Para korban sempat dirawat di Puskesmas Cisayong. Dokter Asep Hermana salah satu tim medis menyatakan, Eti mengalami luka memar pada bagian dahi kiri dan luka robek pada bagian bibirnya.
“Alhamdulillah sampai saat ini korban masih dirawat di puskesmas ini. Kami tidak memperbolehkan korban yang terluka untuk pulang karena khawatir mengalami gejala susulan (gegar otak, red). Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda seperti itu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” terangnya.

Sementara itu suami korban Didi (54) menceritakan kejadian yang menimpa istrinya. Ketika gempa terjadi, Didi sedang menjahit sedangkan istri tengah memasak di dapur. “Saya langsung lari keluar rumah bersama anak saya. Saya cari istri saya ke dalam kamar dan dapur, namun tidak ada. Setelah setengah jam berlalu, istri saya berhasil ditemukan oleh Pak Punduh karena terdengar jeritan dari batu-batuan yang menumpuk. Istri saya tertimpa reruntuhan tembok rumah Pak Punduh dan ia terjepit di parit irigasi,” jelasnya.

Sementara di Rajapolah, beberapa rumah roboh. Seperti rumah milik Ajo dan Neni Winiarni warga Kampung Margasari Desa Manggungjaya Kecamatan Rajapolah seluas 33 meter persegi. Serta rumah milik Neneng dan Yayan warga Kampung Sukaruji Desa Sukaraja Kecamatan Rajapolah. Beruntung dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa.

Saat kejadian, Ajo mengaku jika dirinya bersama 4 angggota keluarga sedang berada di dalam rumah. Ketika itu dirinya tengah membuat kerajinan kipas. Saat terjadi gempa, Ajo menarik seluruh kelurganya keluar rumah sehingga tidak ada korban jiwa. “Saat terjadi gempa saya tarik saja seluruh keluarga saya keluar rumah. Walaupun rumah hampir ambruk saya masih bersyukur karena semua keluarga selamat,” paparnya. Dia mengatakan, untuk sementara ini dirinya bersama anggota keluarga lainnya menginap di rumah saudaranya. (sla/jul)

Rumah Kosan Rusak

Gempa yang kemarin mengguncang Pulau Jawa mengakibatkan beberapa rumah kos di Jalan Peta Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya, rusak parah. Misalnya, atap tiga kamar rumah kos Kinci mengalami kerusakan hingga 50 persen. “Tiga kamar ini rusak karena tertimpa benteng dari rumah kos sebelah, kosan Casagrande,” jelas Noe, penjaga kosan Kinci kepada Radar, kemarin.

Dia mengatakan saat kejadian mahasiswa yang ngekos sedang tidak ada di tempat. Sehingga, tidak ada korban jiwa. Tak jauh dari kosan Kinci, Mia, salah satu mahasiswi yang ngekos di Wisma Az-Zahra mengalami luka di kepalanya karena tertimpa genting saat keluar wisma untuk menyelamatkan diri. “Saat itu semua penghuni wisma panik dan langsung keluar rumah. Namun saat Mia, Enuy dan Wulan keluar untuk menyelamatkan diri, ada beberapa genting jatuh dan langsung menimpa kepala Mia,” papar Riska, salah satu penghuni wisma Az-Zahra.

Lanjut dia, Mia yang merupakan mahasiswa Unsil semester 5 itu sempat pingsan lalu dibawa ke rumah saudaranya untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

**Bengkel
Selain merusak kosan, gempa berkekuatan 7,3 SR itu merobohkan bangunan lantai dua bengkel bubut & diesel di Jalan Tentara Pelajar. Barang-barang di ruang tamu (televisi, lemari, meja, kursi dan lainnya) ikut rusak karena tertimpa atap bangunan. “Untungnya, tak ada kerusakan di lantai satu. Tidak ada korban jiwa karena saat kejadian tak ada orang di lantai dua,” ujar Lilis, pemilik bengkel tersebut.

**Gedung Mandala
Gedung Mandala Universitas Siliwangi Tasikmalaya juga berantakan akibat gempa. Atapnya ambruk cukup luas. Dinding gedung rektorat dan gedung perkuliahan pun retak. Sedangkan atap gedung Tri Gatra ambruk.
Gempa terjadi saat ribuan mahasiswa baru menjalani kegiatan Program Pengenalan Studi Pendidikan Tinggi (P2SPT). Saat itu, mereka tepat sedang berkumpul di depan gedung Mandala. Sedangkan di dalam gedung masih terdapat empat orang panitia P2SPT yang tengah istirahat.

Asep Mulyadi, panitia P2SPT, mengatakan saat kejadian seluruh mahasiswa panik dan berhamburan dari gedung-gedung di kampus. “Saya saat itu sedang istirahat di dalam gedung Mandala,” ujarnya.
Awalnya, tambah dia, getaran terasa pelan hingga kemudian gempa terasa semakin keras dan meruntuhkan atap gedung Mandala. “Ketiga teman saya yang sama-sama di dalam gedung Mandala sontak berteriak sambil berhamburan keluar,” papar dia.

Menurut Asep, setelah mahasiswa berhasil ditenangkan, panitia segera membubarkan acara P2SPT agar mahasiswa bisa segera kembali ke tempat tinggal masing-masing. Akibat kejadian gempa ini, P2SPT terancam tidak dilanjutkan karena mahasiswa masih resah. (na/rur)

Wisnu Tewas Tertimpa Tembok


ASIK – Wisnu, bocah berusia tujuh setengah tahun, asal Kampung Suka Setia Kelurahan Suka Asih Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya, tewas tertimpa tembok saat gempa. Menurut kesaksian Entis, warga setempat, saat terjadi gempa Wahyu dan warga lain berlari keluar rumah dan berlindung di sebuah gang. Namun hahas, tembok rumah di gang tersebut malah ambruk menimpa Wahyu dan korban lainnya.
“Dinding rumah yang doyong menimpa Wisnu dan beberapa warga lain yang sedang berlindung di baliknya. Ketika Wisnu, saya angkat kepalanya nyaris lepas, keadaannya sungguh mengenaskan,” ungkap dia.

Sebenarnya, tambah dia, ada delapan warga yang tertimpa reruntuhan. Mereka adalah, Ny Yayan, Ajril, Adit, Elis, Yopi, Yayah dan Irah. “Tujuh tetangga sekaligus saudara kami menjadi korban runtuhnya tembok tersebut. Empat orang dibawa ke mantri (kesehatan), satu sedang dirawat di rumah sakit dan satu (Wisnu) meninggal,” papar dia.

Entik yang juga saudara dekat Wahyu, mengaku terpukul atas kejadian ini. “Kami semua tidak pernah menyangka. Cobaan terjadi begitu tiba-tiba. Wahyu anaknya ceria dan lincah, sekarang tiba-tiba kita semua tidak bisa melihatnya lagi,” ucapnya.

Dia mengatakan seluruh korban memiliki hubungan kekerabatan. “Kami sekampung hampir seluruhnya memiliki kekerabatan, tetangga tetangga saya adalah saudara, sedih sekali melihat mereka menjadi korban gempa,” terang dia.

**Ciamis
Sedangkan Ihsan Fauzi, guru Madrasah Sindang Kasih Kabupaten Ciamis, mengatakan gempa terjadi saat para santrinya sedang menunggu waktu masuk sekolah agama. ”Ada beberapa anak yang sedang bermain di sekitar madrasah, tiba-tiba saja gempa terjadi dan mengambrukan atap. Puing–puing atap menimpa beberapa santri, enam mengalami luka berat,” jelas dia.

Ihsan mengemukakan tiga santri dirawat di rumah sakit umum, tiga santri dilarikan ke puskesmas. Santri yang dirawat di rumah sakit adalah Jajang ( 11), Mukammad Irsan (9) dan Chandra Mulin (10). Irsan mengalami patah tulang hidung dan lebam-lebam pada wajah. (ath)

Gempa Tasikmalaya Ramai di Facebook

Situs jejaring sosial Facebook ramai dengan testimoni tentang gempa Rabu (2/9) siang yang berpusat barat daya Kabupaten Tasikmalaya. Macam-macam komentar dan berita ditulis pengguna Facebook dalam dinding mereka atau dinding teman-temannya.

Dadang Sudardja, misalnya, melaporkan situasi terakhir di beberapa lokasi kejadian gempa dan kebutuhan para korban di lapangan. Kini 5.000 orang mengungsi, 15 rumah terkubur, puluhan orang luka berat.

Kebutuhan di lapangan adalah makanan, obat-obatan dan penerangan. Untuk Kabupaten Cianjur diperlukan alat-alat berat, selimut dan makanan bayi. Karena masih ada sekitar 15 rumah yang tertimbun longsor. Proses evakuasi sedang dan berjalan baru 13 orang yang sudah ditemukan.

Untuk Pangalengan Kabupaten Bandung diperlukan bantuan makanan segera dan makanan bayi setiap titik pengungsi ada 250 warga. “Di perkirakan ada seribuan warga yang memerlukan makan cepat saji dan diesel untuk penerangan (lampu petromak),” tutur Dadang dalam dinding Facebook-nya.

Lain lagi dengan Shahibah Yuliani, mahasiswi pasca-sarjana Universitas Negeri Jakarta yang panik karena gempa. “Lagi kuliah gempa. Yang tadinya pusing lihat dosen ceramah, jadi tambah pusing. Ngeri juga, untung langsung keluar, apalah jadinya jika ada susulan. Naudzubillah,” tuturnya.

Berbagai keprihatinan dan keresahan muncul lewat situs jejaring sosial internet terbesar saat ini tersebut. Facebook jadi semacam penghubung pesan bagi mereka yang memiliki kabar atau sekadar prihatin dengan peristiwa yang luar biasa ini. (rur)