Warga Bandung Berhamburan
BANDUNG – Goncangan dengan kekuatan 7,3 SR dengan titik gempa di Tasikmalaya, ternyata dirasakan masyarakat di berbagai daerah, termasuk Bandung dan Jakarta. Di Kota Bandung, saat gempa terjadi hampir sebagian besar warga panik.
Terlebih, peristiwa yang terjadi di bulan Ramadan ini, terjadi saat banyak orang ramai ngabuburit di pusat-pusat pertokoan dengan gedung beringkat. Sontak saja, saat gempa terjadi, warga berhamburan keluar gedung dan memadati jalanan protokol.
Pantauan Bandung Ekpsres (Grup Radar Tasikmalaya) di mal Bandung Electronic Center (BEC), Jalan Purnawarman, semua pengunjung berlarian keluar dengan panik. Awalnya, sebagian pengunjung tidak merasakan gempa tersebut. Namun, ketika gempa semakin kencang, semua pengunjung dan pegawai toko langsung panik, terutama yang sedang berada di lantai atas. Meski harus berdesakan, semuanya berlomba turun secepatnya menggunakan tangga eskalator. Bahkan tak sedikit pengunjung yang lari tanpa menggunakan alas kaki karena ketinggalan di dalam.
Salah seorang pemilik kios, Erwin mengatakan, saat berlari ia tak memikirkan apapun. Ia mengaku, kiosnya ditinggalkan begitu saja ketika merasakan gempa. “Saya nggak bawa apapun saking takutnya, apalagi goncangannya sangat terasa. Saya hanya bawa laptop saja yang ada di meja,” ujar dia.
Sedangkan Firman (24) mengaku sangat merasakan goncangan tersebut, terlebih saat kejadian, ia sedang berada di lantai tiga BEC. Ia menambahkan, keadaan di dalam ketika itu sangat kacau. Bahkan ia lihat ada beberapa orang yang jatuh ketika berdesakan di tangga. Beberapa di antaranya, kata dia, mengalami luka ringan.
Menurut Firman, ketika setelah gempa terjadi, selain suara teriakan, dari lantai atas terdengar pecahan kaca dan bangunan yang seperti roboh. Namun ia tidak bisa memastikan apakah ada dinding atau lantai yang rusak di sana.
Hal senada diungkapkan Fera. Kata dia, saat gempa tersebut, ia berpikiran akan hari kiamat. “Ada yang teriak minta tolong, ada yang teriak menyebutkan nama Tuhan. Pokoknya pada saat itu saya sudah tidak memikirkan apa-apa yang penting saya selamat,” ungkapnya.
Salah seorang petugas keamanan, Oni Febri mengatakan untuk keamanan semua pengunjung dilarang masuk ke gedung. Menurut dia, hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gempa susulan. Selain dikosongkan, mal yang biasa buka sampai pukul 22.00 itu pun ditutup lebih awal. Menurut dia, hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun ia memastikan hari ini (3/9) BEC akan buka kembali.
Kondisi serupa terjadi di Balai Diklat PU Wilayah II Bandung. Ratusan siswa diklat berhamburan di saat mengikuti materi. “Saya melihat infokus bergoyang-goyang,” papar Sabirin Muchtar (41), salah seorang siswa asal Lampung yang tengah mengikuti pelatihan.
Hal serupa dikemukakan Ateng Harja (40), salah seorang siswa Balai Diklat PU Wilayah II Bandung. Menurut Ateng, ia dan ratusan siswa lain, berhamburan ke luar gedung yang berhadapan dengan Mapolwiltabes Bandung itu. Akibat kejadian ini, tembok di dinning room, retak sekitar dua meter.
Pun di Lantai 1 kantor Telkom, Jalan Japati. Di belakang resepsionis, dinding sebelah kiri dan kanannya terkelupas akibat gempa. Bahkan, karena kejadian ini, sekitar 3.000 karyawan PT Telkom itu pun dipulangkan lebih cepat.
Kuatnya guncangan gempa juga mengakibatkan kolam renang di lantai tiga Grand Hotel Hyatt Regency Bandung, bocor. Karenanya, airnya hingga merembes ke ruang meeting room di lantai dua. “Kolam renang di lantai tiga bocor hingga merembas ke ruang meeting room di lantai dua. Namun, air rembesan air tidak terlalu parah,” ujar Publik Relation Manajer Grand Hotel Hyat Regency Bandung Mila M Omarsaid saat ditemui wartawan di luar gedung Hyatt.
Akibat kejadian tersebut, ratusan pengunjung hotel serta karyawan dievakuasi ke kantor Kodam Siliwangi yang berada di sebelah hotel.
Ia menuturkan, saat gempa terjadi kepanikan yang sangat di antara pengunjung dan karyawan hotel berbintang itu. “Tidak hanya pengunjung, karyawan juga ikut panik,” tuturnya.
Pantauan di Metro Trade Center (MTC), Jalan Soekarno-Hatta, sebagian besar pengunjung mengaku merasakan gempa cukup lama, sekitar 10 detik.
Bahkan ruko yang disewa ESQ yang terletak di sebelah MTC, kubahan bagian atasnya hancur berantakan. Kendati tidak ada korban jiwa, namun kepanikan tampak di dalam ruko yang saat itu sedang melalukan terapi religius.
Kepanikan serupa terjadi di Pusat belanja Borma, Jalan Kiaracondong. Bahkan, seisi barang dagangan berantakan serta atap bangunan hancur. “Ketika terdengar bunyi gemuruh dan goyangan gempa, seluruh karyawan dan para konsumen berhamburan keluar gedung untuk menyelamatkan diri,” terang security Borma Rasyid Mulyadi. (han/mim/rif)
Sabtu, September 05, 2009
Berbuka Puasa di Bawah Tenda
RAJAPOLAH – Sebanyak enam keluarga di Kampung Tanjungjaya RT 07/05 Desa Margajaya Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya terpaksa berbuka puasa di luar rumah dengan menggelar tikar dan membuat tenda dari terpal. Mereka tidak berani kembali ke rumah karena selain rusak akibat gempa, mereka juga khawatir terjadi gempa susulan.
Seperti dilakukan Rojak Nurjaman (65) dan keluarganya. Ia kemarin sore terpaksa berbuka puasa di bawah tenda yang dibangunnya tak jauh dari lokasi rumahnya. Ia khawatir karena tembok rumahnya roboh dan hingga saat ini masih belum dibereskan. “Saya juga mungkin akan tidur disini. Karena di dalam rumah pun kami tidak bisa tidur. Banyak reruntuhan tembok. Rencananya mungkin besok kami mulai membersihkan reruntuhan itu,” ucap Rojak diamini istrinya.
Hal senada dikatakan Salim (50), tetangga Rojak. Rumah Salim pun rusak parah karena selain atapnya yang ambrol juga tembok-temboknya roboh dan retak-retak. “Kami takut akan ada gempa susulan, maka kami pun ikut menggelar tikar dan berbuka puasa di tempat ini bersama anggota keluarga lainnya. Kami mungkin akan tidur disini. Biarpun dingin asal selamat. Kami hanya waspada seandainya terjadi gempa lagi,” tutur dia.
Sementara di tempat terpisah, ratusan warga di Kampung Kerenceng Desa Guranteng Kecamatan Rajapolah menempati sebidang tanah lapang di perkampungan itu. Mereka membuat tenda-tenda darurat sebagai tempat tinggal sementara. Maklum, hampir 40 rumah mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat.
“Mereka masih ketakutan untuk kembali ke rumahnya. Apalagi tidak sedikit yang mengalami rusak berat. Sebenarnya kami di sini telah menghubungi pihak Dinsos untuk meminta bantuan tenda-tenda yang layak agar masyarakat di sini tidak kedinginan. Tapi sampai saat ini masih belum datang,” ujar H Dedy Permana, salah seorang tokoh masyarakat Pagerageung.
Dia bersama para pemuda desa setempat dan anggota KNPI Kecamatan Pagerageung mencoba memberikan pertolongan pertama guna meringankan beban warga. Terutama dengan mengevakuasi warga dan menjaga harta bendanya yang berada di rumahnya masing-masing. (sla)
RAJAPOLAH – Sebanyak enam keluarga di Kampung Tanjungjaya RT 07/05 Desa Margajaya Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya terpaksa berbuka puasa di luar rumah dengan menggelar tikar dan membuat tenda dari terpal. Mereka tidak berani kembali ke rumah karena selain rusak akibat gempa, mereka juga khawatir terjadi gempa susulan.
Seperti dilakukan Rojak Nurjaman (65) dan keluarganya. Ia kemarin sore terpaksa berbuka puasa di bawah tenda yang dibangunnya tak jauh dari lokasi rumahnya. Ia khawatir karena tembok rumahnya roboh dan hingga saat ini masih belum dibereskan. “Saya juga mungkin akan tidur disini. Karena di dalam rumah pun kami tidak bisa tidur. Banyak reruntuhan tembok. Rencananya mungkin besok kami mulai membersihkan reruntuhan itu,” ucap Rojak diamini istrinya.
Hal senada dikatakan Salim (50), tetangga Rojak. Rumah Salim pun rusak parah karena selain atapnya yang ambrol juga tembok-temboknya roboh dan retak-retak. “Kami takut akan ada gempa susulan, maka kami pun ikut menggelar tikar dan berbuka puasa di tempat ini bersama anggota keluarga lainnya. Kami mungkin akan tidur disini. Biarpun dingin asal selamat. Kami hanya waspada seandainya terjadi gempa lagi,” tutur dia.
Sementara di tempat terpisah, ratusan warga di Kampung Kerenceng Desa Guranteng Kecamatan Rajapolah menempati sebidang tanah lapang di perkampungan itu. Mereka membuat tenda-tenda darurat sebagai tempat tinggal sementara. Maklum, hampir 40 rumah mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat.
“Mereka masih ketakutan untuk kembali ke rumahnya. Apalagi tidak sedikit yang mengalami rusak berat. Sebenarnya kami di sini telah menghubungi pihak Dinsos untuk meminta bantuan tenda-tenda yang layak agar masyarakat di sini tidak kedinginan. Tapi sampai saat ini masih belum datang,” ujar H Dedy Permana, salah seorang tokoh masyarakat Pagerageung.
Dia bersama para pemuda desa setempat dan anggota KNPI Kecamatan Pagerageung mencoba memberikan pertolongan pertama guna meringankan beban warga. Terutama dengan mengevakuasi warga dan menjaga harta bendanya yang berada di rumahnya masing-masing. (sla)
Bocah di Cisayong juga Jadi Korban
CISAYONG - Akibat gempa tektonik yang terjadi pukul 14.55 kemarin, tercatat 3 orang di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya mengalami luka dan seorang meninggal dunia. Korban yang mengalami luka salah satunya adalah Eti, warga Kampung Sukananjung RT 22/06 Desa Sukasetia Kecamatan Cisayong. Sedangkan yang meninggal dunia adalah Hendra seorang bocah berusia 5 tahun. Keduanya mengalami luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
Para korban sempat dirawat di Puskesmas Cisayong. Dokter Asep Hermana salah satu tim medis menyatakan, Eti mengalami luka memar pada bagian dahi kiri dan luka robek pada bagian bibirnya.
“Alhamdulillah sampai saat ini korban masih dirawat di puskesmas ini. Kami tidak memperbolehkan korban yang terluka untuk pulang karena khawatir mengalami gejala susulan (gegar otak, red). Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda seperti itu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” terangnya.
Sementara itu suami korban Didi (54) menceritakan kejadian yang menimpa istrinya. Ketika gempa terjadi, Didi sedang menjahit sedangkan istri tengah memasak di dapur. “Saya langsung lari keluar rumah bersama anak saya. Saya cari istri saya ke dalam kamar dan dapur, namun tidak ada. Setelah setengah jam berlalu, istri saya berhasil ditemukan oleh Pak Punduh karena terdengar jeritan dari batu-batuan yang menumpuk. Istri saya tertimpa reruntuhan tembok rumah Pak Punduh dan ia terjepit di parit irigasi,” jelasnya.
Sementara di Rajapolah, beberapa rumah roboh. Seperti rumah milik Ajo dan Neni Winiarni warga Kampung Margasari Desa Manggungjaya Kecamatan Rajapolah seluas 33 meter persegi. Serta rumah milik Neneng dan Yayan warga Kampung Sukaruji Desa Sukaraja Kecamatan Rajapolah. Beruntung dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa.
Saat kejadian, Ajo mengaku jika dirinya bersama 4 angggota keluarga sedang berada di dalam rumah. Ketika itu dirinya tengah membuat kerajinan kipas. Saat terjadi gempa, Ajo menarik seluruh kelurganya keluar rumah sehingga tidak ada korban jiwa. “Saat terjadi gempa saya tarik saja seluruh keluarga saya keluar rumah. Walaupun rumah hampir ambruk saya masih bersyukur karena semua keluarga selamat,” paparnya. Dia mengatakan, untuk sementara ini dirinya bersama anggota keluarga lainnya menginap di rumah saudaranya. (sla/jul)
Para korban sempat dirawat di Puskesmas Cisayong. Dokter Asep Hermana salah satu tim medis menyatakan, Eti mengalami luka memar pada bagian dahi kiri dan luka robek pada bagian bibirnya.
“Alhamdulillah sampai saat ini korban masih dirawat di puskesmas ini. Kami tidak memperbolehkan korban yang terluka untuk pulang karena khawatir mengalami gejala susulan (gegar otak, red). Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda seperti itu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” terangnya.
Sementara itu suami korban Didi (54) menceritakan kejadian yang menimpa istrinya. Ketika gempa terjadi, Didi sedang menjahit sedangkan istri tengah memasak di dapur. “Saya langsung lari keluar rumah bersama anak saya. Saya cari istri saya ke dalam kamar dan dapur, namun tidak ada. Setelah setengah jam berlalu, istri saya berhasil ditemukan oleh Pak Punduh karena terdengar jeritan dari batu-batuan yang menumpuk. Istri saya tertimpa reruntuhan tembok rumah Pak Punduh dan ia terjepit di parit irigasi,” jelasnya.
Sementara di Rajapolah, beberapa rumah roboh. Seperti rumah milik Ajo dan Neni Winiarni warga Kampung Margasari Desa Manggungjaya Kecamatan Rajapolah seluas 33 meter persegi. Serta rumah milik Neneng dan Yayan warga Kampung Sukaruji Desa Sukaraja Kecamatan Rajapolah. Beruntung dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa.
Saat kejadian, Ajo mengaku jika dirinya bersama 4 angggota keluarga sedang berada di dalam rumah. Ketika itu dirinya tengah membuat kerajinan kipas. Saat terjadi gempa, Ajo menarik seluruh kelurganya keluar rumah sehingga tidak ada korban jiwa. “Saat terjadi gempa saya tarik saja seluruh keluarga saya keluar rumah. Walaupun rumah hampir ambruk saya masih bersyukur karena semua keluarga selamat,” paparnya. Dia mengatakan, untuk sementara ini dirinya bersama anggota keluarga lainnya menginap di rumah saudaranya. (sla/jul)
Rumah Kosan Rusak
Gempa yang kemarin mengguncang Pulau Jawa mengakibatkan beberapa rumah kos di Jalan Peta Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya, rusak parah. Misalnya, atap tiga kamar rumah kos Kinci mengalami kerusakan hingga 50 persen. “Tiga kamar ini rusak karena tertimpa benteng dari rumah kos sebelah, kosan Casagrande,” jelas Noe, penjaga kosan Kinci kepada Radar, kemarin.
Dia mengatakan saat kejadian mahasiswa yang ngekos sedang tidak ada di tempat. Sehingga, tidak ada korban jiwa. Tak jauh dari kosan Kinci, Mia, salah satu mahasiswi yang ngekos di Wisma Az-Zahra mengalami luka di kepalanya karena tertimpa genting saat keluar wisma untuk menyelamatkan diri. “Saat itu semua penghuni wisma panik dan langsung keluar rumah. Namun saat Mia, Enuy dan Wulan keluar untuk menyelamatkan diri, ada beberapa genting jatuh dan langsung menimpa kepala Mia,” papar Riska, salah satu penghuni wisma Az-Zahra.
Lanjut dia, Mia yang merupakan mahasiswa Unsil semester 5 itu sempat pingsan lalu dibawa ke rumah saudaranya untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
**Bengkel
Selain merusak kosan, gempa berkekuatan 7,3 SR itu merobohkan bangunan lantai dua bengkel bubut & diesel di Jalan Tentara Pelajar. Barang-barang di ruang tamu (televisi, lemari, meja, kursi dan lainnya) ikut rusak karena tertimpa atap bangunan. “Untungnya, tak ada kerusakan di lantai satu. Tidak ada korban jiwa karena saat kejadian tak ada orang di lantai dua,” ujar Lilis, pemilik bengkel tersebut.
**Gedung Mandala
Gedung Mandala Universitas Siliwangi Tasikmalaya juga berantakan akibat gempa. Atapnya ambruk cukup luas. Dinding gedung rektorat dan gedung perkuliahan pun retak. Sedangkan atap gedung Tri Gatra ambruk.
Gempa terjadi saat ribuan mahasiswa baru menjalani kegiatan Program Pengenalan Studi Pendidikan Tinggi (P2SPT). Saat itu, mereka tepat sedang berkumpul di depan gedung Mandala. Sedangkan di dalam gedung masih terdapat empat orang panitia P2SPT yang tengah istirahat.
Asep Mulyadi, panitia P2SPT, mengatakan saat kejadian seluruh mahasiswa panik dan berhamburan dari gedung-gedung di kampus. “Saya saat itu sedang istirahat di dalam gedung Mandala,” ujarnya.
Awalnya, tambah dia, getaran terasa pelan hingga kemudian gempa terasa semakin keras dan meruntuhkan atap gedung Mandala. “Ketiga teman saya yang sama-sama di dalam gedung Mandala sontak berteriak sambil berhamburan keluar,” papar dia.
Menurut Asep, setelah mahasiswa berhasil ditenangkan, panitia segera membubarkan acara P2SPT agar mahasiswa bisa segera kembali ke tempat tinggal masing-masing. Akibat kejadian gempa ini, P2SPT terancam tidak dilanjutkan karena mahasiswa masih resah. (na/rur)
Dia mengatakan saat kejadian mahasiswa yang ngekos sedang tidak ada di tempat. Sehingga, tidak ada korban jiwa. Tak jauh dari kosan Kinci, Mia, salah satu mahasiswi yang ngekos di Wisma Az-Zahra mengalami luka di kepalanya karena tertimpa genting saat keluar wisma untuk menyelamatkan diri. “Saat itu semua penghuni wisma panik dan langsung keluar rumah. Namun saat Mia, Enuy dan Wulan keluar untuk menyelamatkan diri, ada beberapa genting jatuh dan langsung menimpa kepala Mia,” papar Riska, salah satu penghuni wisma Az-Zahra.
Lanjut dia, Mia yang merupakan mahasiswa Unsil semester 5 itu sempat pingsan lalu dibawa ke rumah saudaranya untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
**Bengkel
Selain merusak kosan, gempa berkekuatan 7,3 SR itu merobohkan bangunan lantai dua bengkel bubut & diesel di Jalan Tentara Pelajar. Barang-barang di ruang tamu (televisi, lemari, meja, kursi dan lainnya) ikut rusak karena tertimpa atap bangunan. “Untungnya, tak ada kerusakan di lantai satu. Tidak ada korban jiwa karena saat kejadian tak ada orang di lantai dua,” ujar Lilis, pemilik bengkel tersebut.
**Gedung Mandala
Gedung Mandala Universitas Siliwangi Tasikmalaya juga berantakan akibat gempa. Atapnya ambruk cukup luas. Dinding gedung rektorat dan gedung perkuliahan pun retak. Sedangkan atap gedung Tri Gatra ambruk.
Gempa terjadi saat ribuan mahasiswa baru menjalani kegiatan Program Pengenalan Studi Pendidikan Tinggi (P2SPT). Saat itu, mereka tepat sedang berkumpul di depan gedung Mandala. Sedangkan di dalam gedung masih terdapat empat orang panitia P2SPT yang tengah istirahat.
Asep Mulyadi, panitia P2SPT, mengatakan saat kejadian seluruh mahasiswa panik dan berhamburan dari gedung-gedung di kampus. “Saya saat itu sedang istirahat di dalam gedung Mandala,” ujarnya.
Awalnya, tambah dia, getaran terasa pelan hingga kemudian gempa terasa semakin keras dan meruntuhkan atap gedung Mandala. “Ketiga teman saya yang sama-sama di dalam gedung Mandala sontak berteriak sambil berhamburan keluar,” papar dia.
Menurut Asep, setelah mahasiswa berhasil ditenangkan, panitia segera membubarkan acara P2SPT agar mahasiswa bisa segera kembali ke tempat tinggal masing-masing. Akibat kejadian gempa ini, P2SPT terancam tidak dilanjutkan karena mahasiswa masih resah. (na/rur)
Langganan:
Postingan (Atom)


