Sabtu, September 05, 2009

Panik Gempa, 4 Luka

CIREBON - Getaran gempa yang terasa di Kota Cirebon menyebabkan korban luka. Sedikitnya tiga orang dilarikan ke RS Pelabuhan Cirebon. Terdiri dari seorang ibu, Wahyuni (41) dan dua orang anaknya yang kembar, Dora (12) serta Dera (12). Mereka warga Karangsembung Kabupaten Cirebon.

Wahyuni menuturkan saat getaran gempa terasa, ia dan anaknya seperti pengunjung yang lain berusaha berebutan keluar gedung PGC. Karena padatnya pengunjung, tak ayal ia dan anak-anaknya terdorong-dorong yang akhirnya menyebabkan Dora terlepas dari pegangan hingga akhirnya terinjak-injak. “Saya tak bisa berbuat banyak, berteriak pun susah sekali. Anak saya terinjak-injak tanpa saya mampu menolong. Ia pun kemudian pingsan dan segera oleh pengunjung lain diarahkan untuk menuju RS Pelabuhan,” katanya.

Diantar tukang becak, Wahyuni pun masuk UGD RS Pelabuhan. Tim medis kemudian menangani Dora yang pingsan. Sementara kembarannya, Dera, langsung ditidurkan di tempat tidur medis. Dera yang sempat diwawancarai Radar menuturkan, luka yang dialaminya itu akibat jatuh dan berdesak-desakan dengan orang banyak. Pasalnya, saat terjadi getaran langsung terjadi kepanikan apalagi setelah ambruknya atap plafon. "Saya juga sempat terpisah dengan orang tua saat terjatuh," ujarnya.

Kepada Radar, Dokter Unit Gawat Darurat RS Pelabuhan dr Adinda Maharani menerangkan kalau Dora mengalami trauma akibat kejadian tersebut. Selain itu, sempat terjadi penurunan kesadaran akibat kekurangan oksigen saat berdesakan dengan orang banyak. "Tetapi, kami masih melakukan observasi pada Dora," ujar perempuan berkerudung ini.

Korban luka lainnya, namun tak dibawa ke rumah sakit adalah Vivi (21). Dipapah seorang rekan, Vivi yang berjalan terseok karena kakinya merasa sakit, mengungkapkan dirinya terjatuh dari ekskalator saat berebutan turun dari lantai dua PGC. “Iya nih, kaki saya sakit sekali. Saya jatuh dari ekskalator saat pengunjung berebutan keluar,” tandasnya. (ron/yud)

Di Cianjur 12 Orang Tewas

CIANJUR - Gempa besar berdampak ke wilayah Kabupaten Cianjur. Akibat guncangan hebat di wilayah Cianjur selatan sedikitnya 12 rumah di Kampung Sawah Muncang RT 04/01, tepat di bawah Gunung Hanafi perbatasan Desa Cikangkareng-Desa Cibinong Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur selatan tertimbun longsor akibat getaran tanah dahsyat.


Informasi dihimpun Radar, sebanyak 12 kepala keluarga (KK) dengan puluhan anggota keluarga diduga tertimbun hidup-hidup. Hingga pukul 21:30 sudah 10 orang yang ditemukan tewas dengan mengenaskan dan dua lagi kritis. Warga saat gempa terjadi tengah berada di dalam rumah masing-masing. "Peristiwa longsor terjadi setelah gempa hebat terjadi sekitar pukul 15:00, kami langsung menuju lokasi longsor, tercatat ada 12 rumah yang tertimbun oleh tanah dari atas Gunung Hanafi," kata Kepala Desa Pamoyanan Kecamatan Cibinong, Sulaeman saat dihubungi lewat telepon selularnya, kemarin.

Hingga kini Sulaeman masih belum bisa mencatat identitas para korban karena kondisinya sangat mengkhawatirkan. "Kami baru menemukan beberapa tubuh manusia yang diduga anggota 12 KK," ujarnya sekitar pukul 15:40. Pada saat kejadian banyak anak-anak yang tengah bermain video game di tempat penyewaan play station. "Kata warga ada sebagian anak-anak yang tengah bermain PS diduga tewas," ujar Asep Juanda (37), salah seorang warga Cibinong.

Asep menyebutkan untuk mencapai lokasi harus ditempuh dengan mengendarai roda dua, dengan jalan menanjak dan menurun. Letak perkampungan berada di sebelah barat Gunung Hanafai yang longsor.
Areal yang tertimbun longsor seluas 2 hektar dengan ketinggian tanah mencapai 100 meter. Tidak ada satupun rumah yang terlihat akibat hebatnya longsoran tanah. "Hampir semua korban ditemukan dalam kondisi mengkhawatirkan, bahkan ada bagian tubuh antara kaki dan kepala terpisah," tuturnya.

Sementara itu, gempa selama 5 menit berturut-turut yang mengguncang wilayah Cianjur, hampir dipastikan terdapat kerusakan infrastruktur bangunan akibat guncangan hebat tersebut. Rumah Dinas Asper BKPH Sindangbarang Cianjur selatan dikabarkan ambruk. Diduga bangunan tersebut berdiri dekat pantai Samudera Hindia dimana letak pusat gempa dikabarkan berada di pantai selatan Tasikmalaya. "Saya kebetulan berada di Sindangbarang, satu rumah Dinas Asper BKPH Sindangbarang yang dihuni Pak Edhi Jaya Wiguna ambruk," kata Bagian Humas Perum Perhutani KPH Cianjur Sumarna lewat telepon selulernya saat gempa terjadi.

Selain bangunan dinas, tembok depan sebuah toko di kawasan itu juga ambruk. Sedangkan sebagian genting rumah warga merosot dan penduduk pun berlarian keluar dari rumah mereka. Meski begitu dirinya belum menerima kabar ada korban jiwa dalam gempa tersebut. "Air laut sendiri masih tenang dan tidak ada perubahan. Kami yang tengah melakukan kunjungan kerja sangat terkejut, karena takut ada tsunami," ungkapnya.

Senada diungkapkan, Yana (37) warga Desa Girimukti, Campaka, dua rumah di desa tersebut mengalami retak cukup parah, meski belum bisa menyebutkan jumlah keseluruhan bangunan yang rusak akibat gempa. "Getarannya sangat keras, hingga semua warga keluar rumah," ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur Muhammad Darojat Ali saat dihubungi membenarkan peristiwa gempa berujung longsor di wilayah Cianjur selatan. Meski belum bisa memastikan berapa jumlah korban meninggal dunia, akibat gempa bumi berkekuatan 7,3 skala richter tersebut.

Kepastian itu diperkuat pula dengan adanya informasi dari aparat kecamatan yang membenarkan dengan peristiwa tersebut. "Kami langsung melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait. Kami juga akan langsung mengecek ke lapangan," ucap dia saat dihubungi melalui telepon selularnya.
Pihaknya masih melakukan invetarisasi data kerusakan-kerusakan yang dialami warga, baik bangunan maupun korban jiwa. "Secara keseluruhan, tentunya ini merupakan bencana yang terjadi secara serentak. Kita akan bergerak cepat untuk melakukan inventarisasi data sekaligus memberikan pertolongan kepada warga," imbuhnya.

Berdasarkan data yang diperoleh Radar, Cianjur Selatan terkena imbas gempa. Di sejumlah kecamatan terjadi kerusakan sarana tempat tinggal. Seperti di Kecamatan Cidaun, Agrabinta, Cibinong, Sindangbarang, Pagelaran, Sukanagara, Naringgul, Cikadu dan Tanggeung. Namun, demikian, Pemkab Cianjur masih belum bisa memastikan berapa rumah yang rusak akibat gempa tersebut.

Pantauan di beberapa ruas jalan dan titik-titik vital, sejumlah warga memilih menyelamatkan diri dengan berlarian keluar saat terjadi gempa. Di RSU Cianjur, pasien ketakutan untuk kembali menempati ruangan karena khawatir terjadi gempa susulan. (nag)

Warga Karawang Panik

Saat Diguncang Gempa Selama 5 Menit
KARAWANG–Rabu (2/9), seluruh masyarakat Kabupaten Karawang berhamburan keluar rumah dengan bergetarnya permukaan tanah sekitar 5 menit, pada pukul 15.00. Seperti halnya warga Perkantoran Galuh Mas Raya, Kecamatan Teluk Jambe Timur, dengan spontanitas berhamburan keluar kantor untuk menyelamatkan diri dari guncangan gempa yang memang relatif kecil. Namun, hal itu tidak diketahui berapa kekuatan gempa yang mengguncang Kabupaten Karawang.

“Kami kaget setelah merasakan berguncangnya lantai kantor yang dilanjutkan dengan menyelematkan diri keluar perkantoran,” kata Ila, seorang penghuni Perkantoran Galuh Mas yang menyelamatkan diri ke luar lokasi kantor kepada Pasundan Ekspres (Grup Radar Tasikmalaya), Rabu (2/9).

Tindakan prefentif tersebut sebagai upaya penyelamatan diri sendiri memang dirasakan realtif cepat, seketika warga sudah berada di luar rumah. “Saya pernah merasakan gempa, maka cukup mengetahui bahaya jika ada gempa dan kita berada di dalam ruangan,” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Pasundan Ekspres, pusat gempa terjadi di kedalaman 30 km Kabupaten Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 skala richter yang mengguncang Jakarta dan wilayah Jawa Barat lainnya.
Berdasarkan pantauan koran ini di Kabupaten Karawang, gempa yang terjadi hanya beberapa menit. Namun mempunyai guncangan kecil, akan tetapi cukup untuk mengagetkan masyarakat dengan berhamburan keluar ruangan. “Peningnya itu yang membuat saya takut untuk berada di dalam ruangan,” tutur Rini warga Telukjambe.

Pasca berhentinya guncangan gempa, hampir sebagian warga menggunakan handphonenya untuk mengetahui kondisi keluarganya di rumahnya masing-masing. Dipastikan seluruh daerah Kabupaten Karawang mengalami guncangan gempa tersebut. Setelah beberapa lama berdiri di luar ruangan dan guncangan berhenti, semua orangpun kembali memasuki ruangannya masing-masing.(aef)

Gempa, Kepikiran Akan Kiamat

Warga Bandung Berhamburan
BANDUNG – Goncangan dengan kekuatan 7,3 SR dengan titik gempa di Tasikmalaya, ternyata dirasakan masyarakat di berbagai daerah, termasuk Bandung dan Jakarta. Di Kota Bandung, saat gempa terjadi hampir sebagian besar warga panik.

Terlebih, peristiwa yang terjadi di bulan Ramadan ini, terjadi saat banyak orang ramai ngabuburit di pusat-pusat pertokoan dengan gedung beringkat. Sontak saja, saat gempa terjadi, warga berhamburan keluar gedung dan memadati jalanan protokol.

Pantauan Bandung Ekpsres (Grup Radar Tasikmalaya) di mal Bandung Electronic Center (BEC), Jalan Purnawarman, semua pengunjung berlarian keluar dengan panik. Awalnya, sebagian pengunjung tidak merasakan gempa tersebut. Namun, ketika gempa semakin kencang, semua pengunjung dan pegawai toko langsung panik, terutama yang sedang berada di lantai atas. Meski harus berdesakan, semuanya berlomba turun secepatnya menggunakan tangga eskalator. Bahkan tak sedikit pengunjung yang lari tanpa menggunakan alas kaki karena ketinggalan di dalam.

Salah seorang pemilik kios, Erwin mengatakan, saat berlari ia tak memikirkan apapun. Ia mengaku, kiosnya ditinggalkan begitu saja ketika merasakan gempa. “Saya nggak bawa apapun saking takutnya, apalagi goncangannya sangat terasa. Saya hanya bawa laptop saja yang ada di meja,” ujar dia.

Sedangkan Firman (24) mengaku sangat merasakan goncangan tersebut, terlebih saat kejadian, ia sedang berada di lantai tiga BEC. Ia menambahkan, keadaan di dalam ketika itu sangat kacau. Bahkan ia lihat ada beberapa orang yang jatuh ketika berdesakan di tangga. Beberapa di antaranya, kata dia, mengalami luka ringan.

Menurut Firman, ketika setelah gempa terjadi, selain suara teriakan, dari lantai atas terdengar pecahan kaca dan bangunan yang seperti roboh. Namun ia tidak bisa memastikan apakah ada dinding atau lantai yang rusak di sana.

Hal senada diungkapkan Fera. Kata dia, saat gempa tersebut, ia berpikiran akan hari kiamat. “Ada yang teriak minta tolong, ada yang teriak menyebutkan nama Tuhan. Pokoknya pada saat itu saya sudah tidak memikirkan apa-apa yang penting saya selamat,” ungkapnya.

Salah seorang petugas keamanan, Oni Febri mengatakan untuk keamanan semua pengunjung dilarang masuk ke gedung. Menurut dia, hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gempa susulan. Selain dikosongkan, mal yang biasa buka sampai pukul 22.00 itu pun ditutup lebih awal. Menurut dia, hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun ia memastikan hari ini (3/9) BEC akan buka kembali.

Kondisi serupa terjadi di Balai Diklat PU Wilayah II Bandung. Ratusan siswa diklat berhamburan di saat mengikuti materi. “Saya melihat infokus bergoyang-goyang,” papar Sabirin Muchtar (41), salah seorang siswa asal Lampung yang tengah mengikuti pelatihan.

Hal serupa dikemukakan Ateng Harja (40), salah seorang siswa Balai Diklat PU Wilayah II Bandung. Menurut Ateng, ia dan ratusan siswa lain, berhamburan ke luar gedung yang berhadapan dengan Mapolwiltabes Bandung itu. Akibat kejadian ini, tembok di dinning room, retak sekitar dua meter.

Pun di Lantai 1 kantor Telkom, Jalan Japati. Di belakang resepsionis, dinding sebelah kiri dan kanannya terkelupas akibat gempa. Bahkan, karena kejadian ini, sekitar 3.000 karyawan PT Telkom itu pun dipulangkan lebih cepat.

Kuatnya guncangan gempa juga mengakibatkan kolam renang di lantai tiga Grand Hotel Hyatt Regency Bandung, bocor. Karenanya, airnya hingga merembes ke ruang meeting room di lantai dua. “Kolam renang di lantai tiga bocor hingga merembas ke ruang meeting room di lantai dua. Namun, air rembesan air tidak terlalu parah,” ujar Publik Relation Manajer Grand Hotel Hyat Regency Bandung Mila M Omarsaid saat ditemui wartawan di luar gedung Hyatt.

Akibat kejadian tersebut, ratusan pengunjung hotel serta karyawan dievakuasi ke kantor Kodam Siliwangi yang berada di sebelah hotel.
Ia menuturkan, saat gempa terjadi kepanikan yang sangat di antara pengunjung dan karyawan hotel berbintang itu. “Tidak hanya pengunjung, karyawan juga ikut panik,” tuturnya.

Pantauan di Metro Trade Center (MTC), Jalan Soekarno-Hatta, sebagian besar pengunjung mengaku merasakan gempa cukup lama, sekitar 10 detik.
Bahkan ruko yang disewa ESQ yang terletak di sebelah MTC, kubahan bagian atasnya hancur berantakan. Kendati tidak ada korban jiwa, namun kepanikan tampak di dalam ruko yang saat itu sedang melalukan terapi religius.

Kepanikan serupa terjadi di Pusat belanja Borma, Jalan Kiaracondong. Bahkan, seisi barang dagangan berantakan serta atap bangunan hancur. “Ketika terdengar bunyi gemuruh dan goyangan gempa, seluruh karyawan dan para konsumen berhamburan keluar gedung untuk menyelamatkan diri,” terang security Borma Rasyid Mulyadi. (han/mim/rif)

Wajah Koran Edisi Gempa