Dua Hari Pasca-gempa
BANJAR-Korban gempa di Kota Banjar masih memerlukan bantuan. Terutama bantuan untuk memperbaiki rumah yang rusak. Sebab ada sebagian korban yang rumahnya dipasang atap terpal. Jika malam, mereka kedinginan.
Seperti yang dialami warga Cimenyan 2 Kelurahan Mekarsari Kecamatan Banjar. Salah seorang korban gempa, Dede Hadiyatna (42) mengaku saat gempa berkekuatan 7,3 skala richter goncang daerahnya, semua atap rumahnya hancur. Untuk sementara, Dede dan ketiga anaknya tinggal di rumah itu dengan atap terpal. “Jika hujan dan malam tiba, kami kedinginan. Kalau mau pindah, anak-anak tidak mau, pengen tetap di sini,” ujarnya ketika ditemui Radar di rumahnya, Kampung Cimenyan 2, kemarin.
Dede memang sudah berusaha untuk membangun kembali atap rumahnya itu. Ia terpaksa ngutang Rp3 juta dari tetangganya agar bisa memperbaiki atap. “Namun dana sebesar itu kurang cukup memperbaiki atap. Jadi kami tetap memerlukan bantuan,” katanya. “Saya berharap pemerintah memberikan bantuan secepatnya karena kami butuh tempat berteduh. Kami tidak menyalahkan pemerintah akan hal ini, karena ini sudah menjadi bencana alam,” lanjut Dede.
Berdasarkan pantauan Radar di beberapa daerah di Kota Banjar, banyak korban gempa yang sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Kebanyakan dari mereka membutuhkan bantuan material dan sembako. Sedangkan bantuan dari pemerintah, mereka mengaku hingga saat ini belum menerimanya. Mereka hanya menerima bantuan seadanya dari masyarakat sekitar.
BARU DISALURKAN
Secara terpisah, Dinas Sosial Tenaga Kerja, dan Transmigarsi Kota Banjar sudah meyiapkan 1,9 ton beras, mi instan, minyak goreng, alat dapur dan kebutuhan pakaian . Namun bantuan tersebut baru disalurkan kemarin.
”Kita salurkan secara bertahap. Kita prioritaskan untuk mereka yang memang terkena dampak paling parah,” ujar Kepala bidang sosial Dinsosnakertrans Drs Asep Tatang Iskandar kepada Radar di ruang kerjanya, kemarin.
Untuk memudahkan kordinasi dalam penanganan para korban, lanjut Asep, Wali Kota Banjar dr Herman Sutrisno telah menetapkan kantor Disosnakertrans sebagai posko penanggulangan. “Jadi jika ada hal-hal yang berkaitan dengan penanganan pasca-bencana gempa, bisa langsung berkordinasi dengan kantor Dinsosnakertrans,” terangnya.
Asep melanjutkan, selain menyalurkan logistik, kemarin Dinsosnakertrans juga menyalurkan bantuan tenda bagi warga yang rumahnya hancur akibat gempa. “Ada beberapa tenda yang kita pinjam-pakaikan kepada warga yang memang rumahnya hancur dan tidak punya sanak famili. Bantuan hari ini (kemarin) juga kita salurkan,” imbuhnya
Asep mengimbau kepada seluruh anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk selalu siaga dan waspada mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk akibat bencana gempa ini. “Kami imbau agar Tagana selalu melakukan kordinasi lapangan antar-tim serta komponen lain. Bila ada suatu hal penting segera informasikan ke tingkat kota,” imbau Asep.
Para anggota Tagana juga diminta sosialisasikan tatacara penyelamatan diri saat hadapi bencana alam. Terutama di desa-desa dan pesisir pantai. “Kalau di kawasan pesisir rawan tsunami dan gempa bumi. Sedangkan di pegunungan rawan bencana tanah longsor, tak ada perbedaan jenis bencana. Semuanya membahayakan,” tegasnya. (yza/kun)
Sabtu, September 05, 2009
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar